Kartini Masa Gen Z: Mereka yang Tak Terlihat, Tapi Menopang Negeri

Oleh: Advokat Mujiono SH MH

Kartini
Ilustrasi Kartini Masa Gen Z. (MS/Ist)

MOJOKERTO, Metro9Berita.co.id – Setiap 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali digaungkan. Kebaya dikenakan, panggung dihias, pidato dibacakan. Namun di luar seremoni itu, ada satu pertanyaan yang lebih jujur dan menggugah: di mana Kartini hari ini benar-benar hidup?

Jawabannya tidak ada di panggung.
Kartini hari ini ada di jalanan.

Ia adalah perempuan yang mengendarai ojek daring sejak subuh, melawan dingin dan lelah demi dapur tetap menyala. Ia adalah pedagang kecil di pasar tradisional yang bertahan di tengah harga yang tak menentu. Ia adalah buruh bangunan, petani, pekerja informal—yang bekerja tanpa sorotan, tanpa perlindungan memadai.

Example 300x600

Mereka tidak memakai kebaya.
Mereka memakai ketahanan.

Emansipasi yang Tak Lagi Romantis

Jika dulu Raden Ajeng (RA) Kartini berjuang agar perempuan bisa sekolah, hari ini perempuan sudah sampai di bangku universitas, bahkan kursi kekuasaan. Indonesia pernah dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri, dan banyak perempuan kini menduduki jabatan strategis.

READ  Satu Terlapor Dugaan Penggelapan Kasus RedDorsz Tak Ditahan?

Namun realitas di lapangan berkata lain.

Kemajuan itu belum merata. Di akar rumput, perempuan masih menjadi kelompok paling rentan. Mereka bekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian upah, dan sering kali tanpa perlindungan hukum.

Emansipasi hari ini bukan lagi soal “boleh atau tidak boleh”.
Tapi soal “mampu bertahan atau tidak”.

Beban Ganda yang Tak Pernah Usai

Di balik kerja keras itu, ada beban yang jarang dihitung: beban ganda.

Perempuan bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga pengurus rumah tangga. Mereka bekerja di luar, lalu pulang untuk bekerja lagi di dalam rumah—tanpa jeda, tanpa pengakuan yang setara.

Di titik ini, emansipasi menjadi paradoks.
Perempuan diberi ruang untuk maju, tetapi tetap memikul beban lama sendirian.

READ  Viral Penunjukan Dirut BUMD, Bupati Badung Jadi Sasaran Kritik

Wajah Sunyi Ketimpangan

Lebih jauh lagi, realitas pahit tak bisa ditutup-tutupi. Masih ada perempuan yang:

  • Menjadi pengamen di lampu merah
  • Memulung di tengah kota
  • Bahkan mengemis demi bertahan hidup

Ini bukan sekadar cerita kemiskinan. Ini adalah cermin bahwa sistem belum sepenuhnya adil bagi perempuan.

Kartini mungkin berhasil membuka pintu pendidikan.
Namun pintu keadilan ekonomi belum sepenuhnya terbuka.

Kartini yang Tidak Tercatat Sejarah

Kartini masa kini tidak akan masuk buku sejarah. Mereka tidak viral. Tidak dikenal.

Namun justru merekalah yang paling nyata.

Mereka bangun lebih pagi dari kebanyakan orang.
Mereka pulang lebih malam dari yang seharusnya.
Mereka hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk keluarga.

Di sanalah emansipasi bekerja—tanpa sorak, tanpa panggung.

Negara Tidak Bisa Netral

Momentum Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol. Ia harus menjadi alarm kebijakan.

READ  Kyai Asep Kumpulkan 48 Ormas, LSM dan Media di Pacet

Negara tidak cukup hanya membuka akses. Negara harus memastikan keadilan:

  • Perlindungan bagi pekerja perempuan di sektor informal
  • Akses kerja yang layak dan aman
  • Sistem sosial yang memahami beban ganda perempuan

Tanpa itu, emansipasi hanya akan menjadi slogan tahunan.

Penutup: Kartini Belum Selesai

Lebih dari seabad lalu, Raden Ajeng Kartini menulis tentang harapan. Hari ini, harapan itu masih diperjuangkan—dengan wajah yang berbeda.

Kartini masa Gen Z bukan lagi hanya tentang melawan tradisi.
Ia adalah tentang melawan kerasnya realitas hidup.

Dan selama masih ada perempuan yang bekerja tanpa perlindungan,
selama masih ada yang memikul beban tanpa dukungan,
maka satu hal pasti:

Perjuangan Kartini belum selesai.

“Habis Gelap Terbitlah Terang” — bukan sekadar kata, tetapi janji yang masih harus diwujudkan. (*)

banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page