MOJOKERTO, Metro9Berita.co.id — Di balik nama besar Raden Ajeng (RA) Kartini, sejarah menyimpan satu sosok yang nyaris terlupakan: kakaknya, Raden Mas Panji Sosrokartono—seorang intelektual global yang jejaknya melampaui batas Hindia Belanda.
Sosrokartono bukan sekadar priyayi Jawa. Ia adalah produk langka kolonialisme: pribumi yang menembus pusat peradaban Eropa. Lulus dari Leiden, menguasai puluhan bahasa, hingga menjadi wartawan dalam pusaran Perang Dunia I, ia mendapat julukan “Si Jenius dari Timur”.
Namun ironi sejarah terjadi:
Kartini dikenang, Sosrokartono nyaris dilupakan.
Jejak Global yang ‘Dihilangkan’ dari Narasi Nasional
Dalam banyak buku sejarah nasional, peran Sosrokartono tidak mendapat porsi signifikan. Padahal, ia adalah orang Indonesia pertama yang berinteraksi aktif dalam percaturan global—bahkan menjadi saksi peristiwa internasional penting.
Ini memunculkan pertanyaan kritis:
Apakah sejarah Indonesia terlalu berfokus pada simbol, dan melupakan jaringan intelektual di baliknya?
Mitos atau Fakta: Guru Spiritual Soekarno?
Nama Sosrokartono kembali mencuat ketika dikaitkan dengan Soekarno.
Sejumlah kesaksian menyebut ia adalah salah satu guru spiritual Bung Karno—figur yang memperkuat mental dan visi kepemimpinan sang proklamator.
Namun, investigasi terhadap sumber sejarah menunjukkan bahwa klaim ini berdiri di atas fondasi yang rapuh:
- Tidak ditemukan bukti primer kuat
- Tidak tercatat dalam dokumen resmi pergerakan nasional
- Lebih banyak hidup dalam tradisi lisan dan memoir lingkaran dalam
Dengan kata lain, narasi ini berada di wilayah semi-historis: antara kepercayaan, simbolisme, dan politik memori.
Sosrokartono: Lebih Besar dari Sekadar ‘Kakak Kartini’
Jika Kartini adalah simbol perjuangan perempuan, maka Sosrokartono adalah simbol lain yang lebih sunyi:
intelektual pribumi yang menembus dunia, namun tidak masuk arus utama sejarah nasional.
Ia bukan hanya kakak Kartini.
Ia adalah representasi generasi awal elite intelektual Indonesia yang:
- Berpikir global
- Bergerak lintas budaya
- Namun akhirnya “hilang” dari narasi resmi bangsa
🔚 Penutup Tajam
Sejarah sering memilih siapa yang diingat, dan siapa yang dilupakan.
Di satu sisi, Raden Ajeng Kartini menjadi ikon nasional.
Di sisi lain, Raden Mas Panji Sosrokartono tetap berada di pinggir—meski jejaknya mendunia.
Sementara itu, klaim sebagai guru spiritual Soekarno masih menggantung di antara fakta dan mitos.
Dan di sanalah letak ironi sejarah:
yang nyata tidak selalu diingat, dan yang samar justru terus diceritakan. (*)















