SURABAYA, Metro9Berita.co.id – Manajer tim Banteng Jatim FC U17, Dr Ir Daniel Rohi MEngSC IPU tak menampik, kalau tidak semua talenta sepak bola Indonesia terjaring ke dalam klub liga amatir maupun profesional, bahkan timnas Garuda.
Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya isu ‘titipan’, yang terus terjaga kental hingga saat ini. Dalam suatu seleksi pemain sepak bola sering mendengar, bahkan membaca artikel, ada pemain potensi bakat, tapi tersingkir tragis, karena kendala biaya. Hal ini tak berlaku buat Banteng Jatim U17.
Baru-baru ini, juga terang-terangan diunggah ramai di media sosial hingga siber, lolos EPA, terang-terangan dimintai biaya. Dan si pemain, juga tegas mengaku tidak memiliki biaya. Miris memang tapi itulah dinamikanya, kenapa begitu sulit menemukan 11 pemain terbaik.
Hal seperti itu, Daniel Rohi dengan tegas menyatakan, bahwa pemain perlu difasilitasi. “Pemerintah harus hadir, beasiswa itu harus diperluas tidak hanya akademik. Tapi juga prestasi non-akademik, seperti sepak bola,” tegasnya.
Menurut Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Timur ini, pemerintah belakangan ini sudah banyak memberikan beasiswa pendidikan untuk mahasiswa, dan pelajar di sekolah. “Lalu kenapa tidak kasih mereka. Toh itu juga pendidikan yang menunjang karier mereka ke depan,” jelas di Stadion G10N Tambaksari, Surabaya, Minggu (29/3/2026) siang.
Masih Rohi, bahwa kasih dia setahun, tapi kasih syarat harus bermain di klub apa. Pemain betul-betul tidak mampu tapi main di klub, nah pemerintah kasih beasiswa.
“Menurut saya pengembangan bakat sepak bola ini, pemerintah harus hadir. Mungkin dispora, partai politik juga bisa. Nanti saya bicara dengan partai untuk menyiapkan beasiswa buat anak-anak kita,” katanya di sela-sela seleksi pemain untuk turnamen Liga Kampung Soekarno Cup III 2026.
Lebih lanjut, mantan anggota DPRD Jatim periode 2019-2024 ini, mengatakan kalau berbicara olahraga terutama sepak bola di negara kita ini harus realistis.
“Karena belum bisa menjadi gantungan hidup. Makanya anak-anak yang bisa berjuang mandiri itu kita apresiasi, seperti anak Surabaya yang baru-baru ini ke Thailand (Kahfi deRossi). Anak ini kan berani, nekad, konsisten berlatih,” bebernya.
Alasannya patut mengapresiasi si pemain. Karena olahraga bola ini tidak punya masa depan. Tapi dia mau terus latihan. “Nah anak-anak seperti ini yang harus kita apresiasi, diberikan beasiswa,” tandasnya.
Perjalanan Sekilas Kahfi deRossi
Diketahui, pemilik nama lengkap Muhammad Kahfirossi Satria Hantaliandy yang akrab disapa Kahfi deRossi, adalah pemain muda yang lahir dan besar di Surabaya.
Pada awal mengenal sepak bola belajar di Rungkut FC, SSB yang pernah viral karena melahirkan fenomena pemain timnas U16 Indonesia, Moch Supriadi. Selain itu, deRossi juga mengenal sepak bola modern dari Jakarta Football Academy (JFA).
Di masa di bawah usia, 12 tahun, Kahfi deRossi sebagaimana umumnya, anak-anak lain, juga tak pernah absen mengikuti turnamen lokal, regional hingga nasional. Baik kompetisi resmi di bawah kendali PSSI, maupun swasta.
Menapak umur 12 tahun, Rossi terjaring menjadi pemain magang Bhayangkara FC U15. Bersama kakak kandungnya, di bawah arahan pelatih Adi Putra Setiawan. Rossi makin kuat memainkan sepak bola modern. Di masa ini, Bhayangkara hampir tak terkalahkan di kelompok usianya.
Selanjutnya, Rossi melompat mengikuti pelatihan sepak bola Diklat Dispora Surabaya sampai sekitar umur 14 tahun. Bersama pelatih-pelatih legenda Persebaya dan timnas, kemampuan teknik dasarnya semakin kuat.
Di fase U15, Kahfi deRossi lolos seleksi berjalan Bajul Ijo U15. Di sini, jam terbangnya semakin tinggi. Terus bertahan sampai usia 17 tahun, menghabiskan masa Piala Soeratin.
Masih di usia mendekati 16 tahun, dia sudah masuk tim senior Sasana Bhakti yang terjun di kompetisi Liga Persebaya. Prestasi terbaik, juara 3 pra musim Liga Persebaya, semifinalis Piala Soeratin U15. Serta juara turnamen eksibisi Piala Ganjar Pranowo U17 di Sidoarjo.
Selepas fase itu, dia mulai juga bermain di Liga Amatir Futsal Surabaya. Serta lolos seleksi dan masuk mes tim sepak bola Diklat Pelajar Nusantara (Dispora Jawa Timur).
Lika liku ketat dan kerasnya seleksi mulai klub profesional liga hingga timnas yunior semua sudah diikuti dengan penuh semangat. Tak kenal putus asa, meski tidak jarang harus tersingkir secara ‘menyakitkan’.
Konsisten latihan mandiri, ini cara dia mengikis ke-putus-asaan. Klub-klub amatir, seperti Persima Majalengka, Persem Kota Mojokerto, hingga Arema U20, tak luput dari tempat singgah memperkuat skill, selain juga tampil konsisten di Liga Persebaya U18 senior.
Di tengah rasa bosan berlatih. Semangatnya kembali membara, saat pelatih lawasnya, Adi Putra Setiawan, mengajak turun di Liga 4 Piala Wali Kota Surabaya tahun kemarin.
Mengejutkan, deRossi, salah satu pemain kunci yang bermain di dua posisi, striker murni dan stoper, yang bermain sama baiknya. Selanjutnya mengantarkan Semut Hitam sampai babak final. Tim yang tak diperhitungkan sebelumnya, karena dominan pemain muda, binaan calon ketua tunggal Asprov PSSI Jatim akhir tahun lalu, sebelum akhirnya ditunda kebijakan tidak populis PSSI pusat.
Namun, di luar dugaan, delegasi klub asal Thailand telah memantau kinerjanya. Sehari setelah tampil di final Piala Wali Kota Surabaya 2025, deRossi mendapat kabar trial sepak bola amatir Thailand, Minburi City.

Romanus Seran Bria, selaku delegasi, tak sia-sia membawa deRossi ke kota Bangkok. Dalam trial performanya tidak mengecewakan. Kuat bertahan, agresif dan efektif menyerang, meski bermain sama pemain dari negara lain, tak ada canggungnya.
Skill, teknik, strength, dan mampu mencetak skoring gol. Semuanya keluar, hasil dari menit bermain selama di Liga Persebaya. Hampir sebulan di Bangkok, menjelang Lebaran pulang ke Surabaya. Kabarnya bulan tujuh deRossi akan balik lagi untuk negosiasi dengan klub Liga 2 Thailand.
Kisah perjalanan Kahfi deRossi itu, juga mendapat apresiasi dari legenda Persebaya, Winarno alias Mbah Win. “Siapa yang bilang Rossi nggak bisa main bola. Temui saya,” ketus pemilik gol tercepat Liga Indonesia ini.
Mbah Win sendiri, semasa remaja sedikitnya, empat tahun gagal seleksi, karena dugaan nonteknis. Sampai akhirnya bakatnya memikat tim asal Tanah Rencong, Aceh.
Pendapat lain, dari pelatih Adi Putra Setiawan. “Banyak yang bilang Rossi bagus. Tapi tidak pernah memberikan panggung. Itu namanya tidak konsisten. Kalau saya beri dia panggung. Dan sudah membuktikan di publik Surabaya,” katanya.
Sementara Romanus, mengaku tertarik, karena deRossi memainkan sepak bola agresif, dan bisa bermain di banyak posisi sama baiknya. “Terbukti di Thailand banyak yang suka. Main bek, lalu menempatkan di posisi gelandang,” tandasnya. (Harun)























