SURABAYA, Metro9Berita.co.id – Gelora Cinta milik H Said menjadi rising star dengan menjuarai lomba perkutut putaran kedua Liga Hanging Surabaya (LHS), Minggu (26/4/2026) pagi di Halaman Gedung Rektorat Unesa Kampus Lidah Wetan, Surabaya. Perkutut bergelang ring IFF asal Tiger Team Sepanjang Sidoarjo ini menempati gantangan 135 tampil dominan mengumpulkan tiga poin warna full terbaik sepanjang perlombaan.
Said mengaku kaget perkutut miliknya yang baru menginjak umur empat bulan ternyata memiliki mental bertarung. “Jawara belia hasil kebun sendiri, memang untuk pertama kalinya ikut lomba perkutut. Joss usia empat bulan moncer melawan peserta lain yang juga tampil tangguh,” katanya.
Saat ditanya persiapan lomba, Said menjelaskan kalau tidak ada hal khusus. “Rezeki saja latihan bareng teman-teman, kungmania dan burung. Dijemur serta dirawat biasa saja,” ungkapnya.
Puas dengan penampilan burung perkutut kesayangannya, dia juga mengapresiasi segenap panitia. Meski kelas piyik hanging pemula, tapi sangat profesional. “Alhamdulillah shollu ala Nabi Muhammad, aamiin aamiin aamiin ya Allah, panitia sangat memuaskan,” tandasnya.
Menyusul di podium kedua Tiga Jamrud penghuni gantangan 43 milik HA Toha asal Krian dengan gelang ring Rafi bermain di blok berbeda menjadi lawan tangguh Gelora Cinta di babak penentuan. Selanjutnya di tempat ketiga Maskot JDR milik Fadli asal Surabaya berada di gantangan 82 gelang ring JDR. Maksud gelang/ring di sini, adalah asal peternak.
Sebanyak 25 dari 163 perkutut pemula meraih podium terbaik. Di mana dari seluruh peserta putaran kedua ini ditaksir valuenya mencapai Rp2,4 milir. Hobi yang fantastis, rinciannya harga kurungan di angka Rp4 jutaan, dan burung mulai Rp5 sampai 15 juta.
Menurut Benny Mintarso, Ketua Panitia LHS, perlombaan perkutut vakum dua tahun. Sehingga ini menjadi momentum terbaik untuk kembali menggairahkan. Dan sementara mengefektifkan liga hanging piyik kelas pemula.
“Tahun depan ada wacana mulai menggulirkan kelas kerekan. Karena tempat lomba sebelumnya dikomplain warga,” ungkapnya disaksikan Ketua Pengda P3SI Surabaya, Choirul Anam.
Benny merinci bahwa lomba perkutut ada lima kelas. Yakni kelas pemula, hanging/baby usia kurang dari 5 bulan, tinggi gantangan 3 meter. Kemudian naik lagi kerekan dengan tinggi gantangan 6 meter, terbagi kelas piyik yunior dengan kerekan setengah tiang.
“Naik lagi piyik bebas di atas 5 bulan mulai 9 bulan sampai setahun, naik lagi dewasa senior dan yunior, yang dibedakan dari kualitas,” jelas Benny lebih lanjut.
Sementara untuk perlombaan putaran kedua kali ini, terdapat empat blok, di mana tiap bloknya ada 48 burung perkutut. Dan bulan Mei diperkirakan peserta mencapai lima blok.
Aturan lomba berlangsung dalam empat babak, di mana setiap babak durasinya 40 menit. Selanjutnya nilai dari tiap babak diakumulasikan, baru diranking 25 perkutut terbaik. “Penilaian juri dari keindahan suara burung yang dihasilkan, berupa cengkok, irama, dan ketebalan suaranya jelas,” tutur Benny.
Benny lebih jauh, bahwa liga hanging ini digelar 10 putaran, yang pertama di Kecamatan Sambikerep. Setelah seri di Unesa ini, berikutnya bulan Mei di daerah Simo, digilir setiap bulannya. “Ini kita gilir ke kelurahan-kelurahan di Surabaya. Nanti kalau pengurus kecamatan (pengcam) siap ketempatan, baru kita ke sana,” ujarnya.
Peserta tidak hanya Surabaya, tetapi juga berasal dari Sidoarjo, Gresik, Bojonegoro dan Bangkalan, karena melombakan kelas umum. “Kalau anggota asosiasi perkutut P3SI Surabaya, ada ribuan. Tapi ini kelas hanging untuk pemula agar ada wadahnya. Kalau sudah naik baru ke kerekan ini para pemain senior,” beber Benny.
Menurutnya, puncak suara burung perkutut itu di 2-3 tahun, artinya siap ‘perang’, top performancenya, sampai umur 5 tahun. “Kalau usia perkutut bisa mencapai 25 tahun, saya pernah tahu,” timpalnya.
Benny berharap, adanya liga perkutut ini, nantinya bisa memunculkan pecinta-pecinta perkutut yang baru di Surabaya dan sekitarnya.
Dalam kesempatan itu, mewakili Rektor Unesa, Prof Nurhasan, Wakil Rektor IV, Prof Dwi Cahyo Kartiko membuka Liga Hanging Surabaya, sebagai hasil kolaborasi Unesa dengan P3SI Surabaya. “Ini adalah kearifan lokal yang harus kita jaga, karena di dalam perlombaan perkutut ini kita bisa mendatangkan banyak masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, dengan kehadiran masyarakat ini, Unesa bisa juga sebagai tempat yang ramah untuk burung-burung, dan dengan sendirinya, nantinya pelaksanaan sudah sesuai dengan standar yang ada.
“Tadi juri-juri juga bersertifikat nasional, sehingga penilaiannya cukup profesional. Ini sesuatu sangat menarik, makanya harus berkelanjutan. Namun hanya saja bertepatan dengan UTBK, makanya kali ini tidak boleh ada pengeras suara,” tuturnya.
Terbukti, saat perlombaan panitia mendiskualifikasi salah satu peserta dengan menunjukkan bendera merah. Alasannya karena kurang 15 detik perkutut berkicau tiga kali beruntun. Hal ini menunjukkan kelas burung seharusnya masuk kelas kerekan, bukan lagi hanging atau pemula.
Tapi prinsipnya, lanjut Cahyo, ketika tidak ada sounds system, teman-teman bisa mendengarkan lebih jernih, suara-suara perkutut yang sangat merdu.
Bahkan Prof Cahyo, menyebut ini luar biasa, sehingga kalau ada turnamen lagi, dia menawarkan lokasi lebih luas boleh di belakang gedung, mungkin butuh lebih panas. “Tapi yang menarik viewnya memang di depan gedung Rektorat untuk pemotretan,” tandasnya.
Kegiatan ini, juga didukung oleh Auto Unika Mekanik. “Unika siap mendukung terutama kalau nanti jadi digelar kompetisi skala nasional kelas kerekan di belakang gedung Rektorat,” ucap singkat Direktur Unika, Tatag Triwibowo saat menyaksikan perlombaan.
Terpisah, Prof Suyono, selaku penasehat Pengda P3SI Surabaya turut mengapresiasi kepada semua peserta yang telah mensupport sukses jalannya acara. “Support ini berarti ikut perlombaan, juga kepada Pak Tatag Unika, yang selalu mendukung kegiatan pengembangan hobi perkutut yang kami selenggarakan,” jelasnya. (Harun)
Hasil Seri Dua LHS di Unesa:
- 135 – Gelora Cinta – H Said – Tiger Team Sidoarjo – IFF
- 43 – Tiga Jamrud – HA Toha – Krian – Rafi
- 82 – Maskot JDR – Fadli – Surabaya – JDR
- 38 – Agile – H Hidayat – Surabaya – MB
- 153 – Romusha – Tim BN – Surabaya – Atlas
- 95 – Raja Ayam – Junaidi – Surabaya – Unirace
- 115 – Jos Jis – H Ikhsan – Sepanjang – Balqist RF
- 40 – Beyede – Kiros BF/Suci – Surabaya – Grand
- 123 – Cellon BG – Laba-laba -Surabaya – Laba-laba 136
- 09 – Sas – H Matrui – Surabaya – Al Kabir
- 89 – Nom Nom – Sutayat – Gresik – Legowo
- 112 – Bossman – Erwin – Jakarta – Cakrawala
- 138 – Madurasa – Dus Salam – Bangkalan – Unirace
- 17 – AKP Under Cover – Bambang S – Surabaya – Al Kabir
- 46 – Bangkit Kembali – H Riman – Surabaya – Tomy
- 165 – Presiden – Anto – Bojonegoro – Pakard
- 169 – Bagong – Miadji – Surabaya – TN
- 158 – Semar – Rusno – Surabaya – Pakard
- 161 – Sesko – Navi – Bojonegoro – Pakard
- 111 – Ever Order – Antony – Sidoarjo – ING
- 160 – Brama – Paksi – Surabaya – Pakard
- 87 – Berkah KT – HK Taudiq – Sukodono – KT
- 68 – Semangat Membara – H Atro – Surabaya – Glamor
- 63 – Anggrek – Unggul – Surabaya – Unggul
- 86 – Kate – HK Taufiq – Sukodono – KT















