SURABAYA, Metro9Berita.co.id – Setelah vakum hampir 2 tahun karena kesulitan lapangan perlombaan, kompetisi burung perkutut Liga Hanging Surabaya (LHS) kembali digelar di Halaman Gedung Rektorat Unesa Kampus Lidah Wetan, Surabaya, Minggu (26/4/2026) pagi. Sebanyak 163 burung perkutut dari berbagai daerah di Jawa Timur ikut memeriahkan jalannya perlombaan.
Ketua Panitia Liga Hanging Surabaya, Benny Mintarso mendampingi Ketua Pengda P3SI Surabaya, Choirul Anwar, mengatakan bahwa lomba perkutut sementara ini mengefektifkan liga hanging, baru tahun depan ada wacana kelas kerekan. Karena lokasi di lapangan yang lama dapat komplain warga. “Makanya vakum,” ungkapnya di sela-sela perlombaan.
Benny merinci lomba perkutut ada lima kelas. Yakni kelas pemula, hanging/baby usia kurang dari 5 bulan, tinggi gantangan 3 meter. Kemudian naik lagi kerekan dengan tinggi gantangan 6 meter, terbagi kelas piyik yunior dengan kerekan setengah tiang.
“Naik lagi piyik bebas di atas 5 bulan mulai 9 bulan sampai setahun, naik lagi dewasa senior dan yunior, yang dibedakan dari kualitas,” jelas Benny lebih lanjut.
Sementara untuk lomba perkutut kali ini, terdapat empat blok, di mana tiap bloknya ada 48 burung perkutut. Dan bulan Mei diperkirakan peserta mencapai lima blok.
Dengan total 163 peserta, perlombaan ini menyuguhkan value fantastis sedikitnya Rp2,4 miliar. Hitungannya dari harga rata-rata kurungan sebesar Rp4 jutaan, karena dibuat dengan ukiran tangan bernilai seni tinggi, meski bahannya kayu randu. Sedangkan kisaran harga perkutut mulai Rp5 sampai 15 juta.
“Karena membuat satu sangkar saja butuh waktu sekitar 3 bulan. Ini faktor mahalnya harga sangkar perkutut,” terang Benny.
Durasi perlombaan berlangsung dalam empat babak, di mana setiap babaknya selama 40 menit. Selanjutnya nilai dari tiap babak diakumulasikan, kemudian diambil total 25 perkutut dengan penilaian terbaik.
“Penilaian juri dari keindahan suara burung yang dihasilkan, berupa cengkok, irama, dan ketebalan suaranya jelas,” tutur Benny.
Dia menambahkan, lomba perkutut liga hanging ini digelar 10 putaran, yang pertama di Kecamatan Sambikerep. Dan putaran kedua di Unesa ini, berikutnya bulan Mei di daerah Simo, sehingga digilir setiap bulannya. “Ini kita gilir ke kelurahan-kelurahan di Surabaya. Nanti kalau pengurus kecamatan (pengcam) siap ketempatan, baru kita ke sana,” ujarnya.
Peserta tidak hanya Surabaya, tetapi juga berasal dari Sidoarjo, Gresik, Bojonegoro dan Bangkalan, karena melombakan kelas umum. “Kalau anggota asosiasi perkutut P3SI Surabaya, ada ribuan. Tapi ini kelas hanging untuk pemula agar ada wadahnya. Kalau sudah naik baru ke kerekan ini para pemain senior,” beber Benny.
Menurutnya, puncak suara burung perkutut itu di 2-3 tahun, artinya siap ‘perang’, top performancenya, sampai umur 5 tahun. “Kalau usia perkutut bisa mencapai 25 tahun, saya pernah tahu,” timpalnya.
Benny berharap, adanya liga perkutut ini, nantinya bisa memunculkan pecinta-pecinta perkutut yang baru di Surabaya dan sekitarnya.
Dalam kesempatan itu, mewakili Rektor Unesa, Prof Nurhasan, Wakil Rektor IV, Prof Dwi Cahyo Kartiko mengapresiasi terhadap Liga Hanging Surabaya, hasil kolaborasi Unesa dengan P3SI Surabaya. “Ini adalah kearifan lokal yang harus kita jaga, karena di dalam perlombaan perkutut ini kita bisa mendatangkan banyak masyarakat,” katanya saat meninjau perlombaan.
Ia menjelaskan, dengan kehadiran masyarakat ini, Unesa bisa juga sebagai tempat yang ramah untuk burung-burung, dan dengan sendirinya, nantinya pelaksanaan sudah sesuai dengan standar yang ada.
“Tadi juri-juri juga bersertifikat nasional, sehingga penilaiannya cukup profesional. Ini sesuatu sangat menarik, makanya harus berkelanjutan. Namun hanya saja bertepatan dengan UTBK, makanya kali ini tidak boleh ada pengeras suara,” tuturnya.
Tapi prinsipnya, lanjut Cahyo, ketika tidak ada sounds system, teman-teman bisa mendengarkan lebih jernih, suara-suara perkutut yang sangat merdu.
“Di Unesa Lidah Wetan ini, banyak pohon asri, banyak dilepas burung-burung berkicau, dilindungi termasuk perkutut. Siapa saja dilarang menembak, sebagai bentuk kepedulian dengan lingkungan. Sehingga event ini termasuk ada korelasinya bahwa Unesa ramah terhadap habitat burung,” urainya.
Makanya, sambung Prof Cahyo, kalau ini luar biasa, sehingga kalau ada turnamen lagi, dia mempersilahkan untuk menggunakan, boleh di sini (depan Rektorat), atau di belakang gedung yang lebih luas, dan mungkin butuh lebih panas.
“Tapi yang menarik viewnya memang di sini depan gedung Rektorat untuk pemotretan,” tandasnya.
Oleh karena itu, Unesa hadir dan ramah kepada siapapun yang ingin membuat kegiatan. “Apalagi kalau ada lomba kicau itu lebih seru, karena selama ini kan kita bising dengan suara kendaraan bermotor. Namun kali ini sejenak relaksasi menikmati mendengarkan suara burung,” tukasnya.
Masih Cahyo, bahwa perkutut ini termasuk konsisten karena suaranya dari kecil tidak berubah. Secara filosofis mirip Unesa yang selalu konsisten. Bisa banyak belajar dari burung perkutut. Apapun kita memang harus konsisten.
Di sisi lain, Prof Cahyo mengaku termasuk pecinta perkutut, sebab memiliki lima ekor di rumah. Bahkan sempat punya jenis katuranggan Majapahitan, nilai spiritual perkutut yang dikenal turun temurun. Tapi sayangnya hilang.
“Awalnya suka perkutut Bangkok. Tapi ternyata perkutut lokal tak kalah merdu. Meski suaranya lebih rendah, tapi kalau pas habis shalat Subuh, terus membaca Al-Qur’an, sambil mendengarkan suara perkutut lokal ini, sangat relaksasi sekali. Selain bunyi saat saya mengaji. Ini tidak ternilai suaranya,” ujarnya.
Harapan dari kegiatan ini, terang Prof Cahyo, agar tidak berhenti di satu moment ini, tetapi juga bisa diperlombakan secara kontinyu, terus menerus, kemudian dikondisikan, dan disesuaikan dengan kegiatan kampus, agar bisa maksimal.
“Kalau bisa burung kicau lainnya juga bisa dilombakan di sini. Kampus kita kan ramah terhadap siapa saja yang hadir di sini. Intinya Unesa siap mendukung,” tegasnya.
Dalam perlombaan ini panitia mengeluarkan salah satu peserta dengan menunjukkan bendera merah, atau diskualifikasi. Alasannya karena dalam 15 detik perkutut berkicau sampai tiga kali beruntun. Hal ini menunjukkan kelas burung seharusnya masuk kelas kerekan, bukan hanging atau pemula.
Kegiatan ini, juga didukung oleh Auto Unika Mekanik. “Unika siap mendukung terutama kalau nanti jadi digelar kompetisi skala nasional kelas kerekan di belakang gedung Rektorat,” ucap singkat Direktur Unika, Tatag Triwibowo saat menyaksikan perlombaan.
Terpisah, Prof Suyono, selaku penasehat Pengda P3SI Surabaya turut mengapresiasi kepada semua peserta yang telah mensupport sukses jalannya acara. “Support ini berarti ikut perlombaan, juga kepada Pak Tatag Unika, yang selalu mendukung kegiatan pengembangan hobi perkutut yang kami selenggarakan,” jelasnya. (Adv/Harun)




















