Oleh: Prof Dr apt Sukardiman MS*
SURABAYA, Metro9Berita.co.id – Masa remaja sejatinya adalah fase emas —sebuah jembatan krusial menuju kedewasaan yang dipenuhi dengan ide cemerlang, inovasi, kreativitas, dan produktivitas—. Namun, hari ini, jembatan tersebut mulai rapuh dan terancam runtuh oleh tren yang sangat memprihatinkan, yakni fenomena ‘ngelem‘ atau inhalan.
Mirisnya, pemandangan anak remaja yang asyik menghirup aroma lem kaleng di pojok-pojok sepi bukan lagi rahasia umum. Mulai dari anak usia sangat muda, bahkan usia SD, hingga remaja pekerja keras, seperti oknum driver ojol yang tertangkap basah diduga sedang ‘ngelem‘ sembari menunggu penumpang.
Alibi mereka cukup beragam, mulai dari mengusir penat, mengatasi bosan, hingga mencari pelarian instan dari tekanan ekonomi. Padahal, di balik sensasi ‘terbang’ sesaat itu, ada harga sangat mahal yang harus dibayar, yaitu masa depan mereka.
Racun di Balik Aroma Lem: Apa yang Terjadi pada Tubuh?
Mengapa hirupan lem begitu membayakan? Dari kacamata kefarmasian, kebanyakan lem perekat yang kerap disalahgunakan itu mengandung pelarut organik atau solven yang sangat beracun, salah satunya adalah toluena.
Ketika zat kimia ini dihirup oleh seseorang, mekanismenya kerjanya sangat cepat dan bisa merusak tubuh, karena bisa menimbulkan:
- Sensasi Instan: Zat kimia terserap sangat cepat melalui paru-paru, masuk ke aliran darah, dan langsung menembus barier darah-otak. Solven ini menekan sistem saraf pusat, menghasilkan efek mirip alkohol, seperti melayang, mati rasa, dan halusinasi.
- Mekanisme Adiksi atau Ketagihan: Toluena merangsang pelepasan dopamin atau neurotransmiter kesenangan di otak secara tidak alami. Otak remaja yang belum matang secara sempurna akan ‘merekam’ kenyamanan instan ini. Akibatnya, timbul efek toleransi; remaja akan membutuhkan dosis hirupan yang lebih sering dan lebih banyak untuk mencapai efek yang sama. Inilah lingkaran setan adiksi inhalan yang sulit diputus.
- Kerusakan Organ Permanen: Menghirup lem secara kronis dapat menyebabkan sudden sniffing death syndrome atau kematian mendadak karena gagal jantung akibat aritmia berat. Selain itu, akumulasi zat toksik ini bisa mengikis sumsum tulang belakang, merusak hati, ginjal, dan secara permanen membunuh sel-sel saraf di otak.
Menghancurkan Produktivitas, Memutus Rantai Masa Depan
Bagi seorang remaja, dampak ‘ngelem‘ adalah pembunuh produktivitas nomor satu. Kerusakan sel otak akibat inhalan secara langsung menurunkan fungsi kognitif, merusak daya ingat, dan menghancurkan kemampuan konsentrasi.
Remaja yang kecanduan akan kehilangan motivasi dan semangat belajar atau bekerja. Di lingkungan sekolah atau kampus, mereka menjadi apatis dan berprestasi buruk.
Bagi remaja yang sudah bekerja (maaf), seperti kasus oknum driver ojol, seandainya benar. Maka akan berpengaruhi pada hilang fokus berkendara, sehingga berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas, dan menghancurkan reputasi, serta mata pencaharian mereka sendiri.
‘Ngelem’ mengubah generasi yang seharusnya menjadi motor penggerak bangsa berubah menjadi beban sosial.
Gotong Royong Menyelamatkan Generasi: Peran Semua Lini
Menyelesaikan masalah ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang kuat dan kokoh dari berbagai elemen masyarakat:
- Peran Orang Tua adalah Benteng Pertama: Orang tua harus hadir secara emosional, bukan sekadar fisik. Bangun komunikasi yang hangat, kenali perubahan perilaku anak, misal seperti nilai turun drastis, sering mengantuk, atau kamar berbau menyengat, dan awasi lingkaran pertemanan mereka.
- Sekolah dan Kampus untuk Edukasi dan Deteksi Dini: Institusi pendidikan wajib memberikan edukasi bahaya NAPZA —khususnya inhalan yang sering luput dari perhatian— secara berkala. Razia rutin yang humanis, serta penyediaan ruang konseling yang ramah anak sangat diperlukan. Akademisi juga perlu terus menerus menyuarakan riset mengenai bahaya zat-zat adiktif non-konvensional ini.
- Instansi Terkait dan Pemerintah terkait Regulasi dan Hukum: BNN atau Badan Narkotika Nasional dan pihak kepolisian tentunya harus memperketat pengawasan. Perlu ada regulasi atau imbauan bagi toko bangunan atau kelontong agar tidak sembarangan menjual lem industri kepada anak-anak di bawah umur. Selain itu, dinas sosial harus aktif merangkul dan merehabilitasi anak jalanan atau remaja rentan yang terindikasi kecanduan.
Solusi Nyata Menghindari Bahaya ‘Ngelem‘
Bagi para remaja dan lingkungan sekitarnya, berikut adalah langkah konkret untuk memutus rantai bahaya ini:
- Salurkan Energi ke Kegiatan Positif: Alihkan rasa bosan atau stres dengan berolahraga, bergabung dengan komunitas seni, literasi, atau mengembangkan keterampilan digital yang produktif.
- Pilih Lingkungan Pertemanan yang Sehat: Berani berkata “Tidak” saat diajak mencoba. Teman yang baik adalah mereka yang mendukung progres kita, bukan mereka yang mengajak merusak diri.
- Edukasi Sebaya atau Peer Educator: Remaja harus menjadi agen perubahan. Saling mengingatkan antar-teman jauh lebih efektif ketimbang sekadar nasehat kaku dan formal dari orang dewasa.
- Jangan Ragu Mencari Bantuan: Jika sudah terlanjur terjebak, jangan takut untuk melapor ke puskesmas, rumah sakit, atau IPWL (institusi penerima wajib lapor) untuk mendapatkan rehabilitasi medis dan psikologis gratis tanpa dipidana.
Kesimpulan
‘Ngelem‘ mungkin menawarkan pelarian yang sangat murah dan instan bagi remaja yang sedang penat atau terimpit keadaan pahit. Namun, di balik murahnya harga sekaleng lem, ada harga masa depan yang tergadaikan secara permanen.
Remaja masa kini adalah penentu wajah Indonesia di masa depan menuju Indonesia Emas 2045. Sudah saatnya kita semua —orang tua, institusi pendidikan, pemerintah, media masa dan sesama remaja— membuka mata. Jangan biarkan produktivitas dan mimpi-mimpi besar anak bangsa menguap dan melayang sia-sia bersama aroma racun lem kalengan nan murahan. Selamatkan remaja kita, sekarang juga! (Ads/Han)
*Penulis adalah Guru Besar Ilmu Farmakognosi, Ketua Pusat Riset Etnomedisin dan Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.























