MOJOKERTO, Metro9Berita.co.id – Bupati Muhammad Albarraa memimpin apel siaga sekaligus membuka “Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi (SE) 2026”, Rabu (10/6) di Grand Whiz Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kegiatan berlangsung tiga gelombang, melibatkan 968 petugas sensus, terdiri dari pengawas lapangan (PML) dan petugas pencacah lapangan (PPL).
Kegiatan gelombang ketiga hari ini berlangsung efektif selama tiga hari sampai Jumat, sedang hari Sabtunya, 13 Juni hanya checkout saja. Sementara pelatihan gelombang pertama dan kedua telah terlaksana pada 2 dan 6 Juni kemarin.
Diketahui, sensus ekonomi dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, terakhir yang kelima dilakukan 2016 silam. Dulu orang belanja datang ke toko langsung, tapi sekarang lewat online. Sehingga diperlukan sensus ekonomi karena terjadi pergeseran, salah satunya jenis pekerjaan, yang menyesuaikan zaman digitalisasi.
Dalam sambutan apel siaga, Gus Barraa, sapaan Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa mengatakan, bahwa sensus ekonomi 2026 ini penting, karena akan menghasilkan data yang menjadi dasar penyusunan berbagai kebijakan pembangunan baik di tingkat nasional maupun daerah.
“Saat ini perkembangan ekonomi berlangsung sangat cepat, digitalisasi perubahan pola usaha, perkembangan teknologi, serta dinamika pasar menuntut pemerintah untuk memiliki data yang akurat, dan mutakhir, agar kebijakan yang diambil, sesuai kondisi di lapangan,” katanya.
Sementara Kabupaten Mojokerto, masih Gus Barraa, memiliki potensi ekonomi yang besar, baik sektor industri, perdagangan, pertanian, pariwisata, hingga UMKM yang terus berkembang. Maka potensi ini perlu didukung dengan data yang lengkap dan terpercaya, agar dapat menjadi dasar dalam merumuskan program pembangunan yang tepat sasaran.
“Melalui sensus ekonomi 2026, kita akan memperoleh gambaran jelas, mengenai kondisi dunia usaha di Kabupaten Mojokerto. Hasil sensus ini juga akan memberikan informasi mengenai perkembangan berbagai sektor usaha, persebaran aktivitas ekonomi, karakteristik pelaku usaha, serta potensi ekonomi yang dapat terus dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tambahnya.
Data yang akurat juga menjadi kebutuhan penting dalam mewujudkan visi pembangunan Kabupaten Mojokerto, melalui Catur Abhipraya Mubarok, cetus Albarraa. “Khususnya isi ketiga visi kami, yaitu membangun kemandirian ekonomi pada semua tingkatan koperasi, usaha mikro, dan badan usaha milik desa (BUMD) berbasis masyarakat untuk memperkuat struktur ekonomi daerah yang kokoh dan berkelanjutan,” tuturnya.
Menurutnya, berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat akan berjalan efektif, apabila didukung oleh data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, dia mengajak semua pihak untuk mendukung pelaksanaan sensus ekonomi 2026. Sebab keberhasilan kegiatan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab BPS, tetapi juga membutuhkan partisipasi dan kerja sama dari pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, serta seluruh petugas sensus yang terlibat.
“Sebagai petugas sensus, saudara sekalian memegang peran penting dalam memastikan data yang dikumpulkan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, jaga integritas kedepankan profesionalisme dalam setiap proses pendataan, bangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan pelaku usaha, agar proses pengumpulan data dapat berjalan lancar,” pesannya.
Gus Barraa menegaskan, bahwa keberhasilan sensus ini ditentukan oleh kualitas petugas yang ada di lapangan.
Setelah menabuh gong, Gus Barraa, berkenan memakaikan rompi dan name tag sensus ekonomi 2026 secara simbolis kepada perwakilan petugas sebagai tanda dimulainya pelaksanaan sensus di lapangan.
Bupati berharap atribut yang dikenakan tersebut menjadi pengingat, bahwa para petugas sensus sedang menjalankan amanah penting, untuk menghasilkan data yang berkualitas, bagi pembangunan bangsa dan daerah.
“Melalui apel siaga ini, saya mengajak seluruh petugas untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, dan melaksanakan tugas sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan, lakukan pendataan secara cermat, teliti, obyektif, dan sesuai kondisi yang sebenarnya. Pastikan setiap informasi yang diperoleh dicatat dengan benar, sehingga hasil sensus ekonomi 2026, benar-benar dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan yang lebih baik di masa akan datang,” jelasnya.
Selain itu, petugas juga diharapkan dapat menjaga nama baik institusi, dan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat selama proses pendataan. Dengan menunjukkan sikap yang santun, profesional dan humanis, sehingga masyarakat merasa nyaman, serta bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan.
“Mari kita sukseskan sensus ekonomi 2026, demi tersedianya data yang akurat, berkualitas dan bermanfaat bagi pembangunan Indonesia, serta kemajuan Kabupaten Mojokerto. Sekali lagi saya ucapkan selamat bertugas kepada seluruh petugas sensus. Semoga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, dan dapat memberikan hasil terbaik baik pembangunan daerah dan nasional,” tandasnya.
Di kesempatan itu, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada bupati beserta jajarannya atas dukungan dan kolaborasi luar biasa dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto terhadap seluruh kegiatan BPS termasuk sensus ekonomi 2026, yang merupakan hajat besar dalam pendataan negara.
“Beberapa dukungan kami terima melalui Kepala BPS Kabupaten Mojokerto baik berupa surat edaran, spanduk, poster, baliho, videotron. Kemudian fasilitas untuk mengisi barem (tabel) dengan pelaku usaha di Kabupaten Mojokerto ini,” ungkap Herum.
Dia menjelaskan, sensus ini sangat penting karena hanya dilakukan setiap 10 tahun sekali. Serta merupakan pendataan ekonomi terlengkap di Indonesia. Dan khusus sensus ekonomi 2026 juga dilengkapi pendataan seluruh keluarga. “Ini menjadi momentum strategis untuk memotret wajah ekonomi Kabupaten Mojokerto. Sebagai bagian integral Provinsi Jawa Timur maupun nasional,” terangnya.
Herum membeberkan, Mojokerto merupakan kabupaten potensial, dengan memberikan kontribusi 3,57% terhadap perekonomian Jawa Timur, merupakan urutan terbesar ketujuh dari 38 kabupaten/kota. Kalau dilihat dari Gerbangkertosusila menempati urutan keempat.
“Dari perkembangan terakhir pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mojokerto menyentuh angka 5,63%. Di sisi angka kemiskinan juga terus mengalami penurunan, terakhir pada posisi 8,79% dari semula 9,3%. Tentu ini merupakan prestasi sekaligus menggambarkan bahwa kondisi sosial ekonomi di Kabupaten Mojokerto selalu mengalami peningkatan,” bebernya.
Kalau dilihat dari sisi lapangan usaha, sektor industri memberikan serve 59,74% pada triwulan I 2026, di mana Kecamatan Ngoro lewat kawasan industri Ngoro Industri Persada (NIP), sebagai pusat usaha besar. Sehingga mampu menggerakkan perekonomian sekitar, baik berupa perdagangan, makanan minuman, kemudian usaha kos-kosan, juga UMKM lainnya yang semakin berkembang.
Untuk itu, ia meminta, sensus ekonomi 2026 ini, harus mampu mengungkap bagaimana transformasi kegiatan ekonomi, seperti ekonomi digital. Karena itu para petugas nantinya diminta melakukan wawancara mendalam, sebab ekonomi digital ini tidak memiliki ruang usaha. Tetapi harus tetap tercatat.
“Tolok ukur suksesnya sensus ekonomi 2026 ada dua hal besar. Yang pertama, semua harus terdata, baik usaha ekonomi pertanian maupun non pertanian. Kemudian yang kedua, kualitas datanya harus bagus. Bagaimana semua terdata, kita juga harus mampu menangkap pola usaha di Kabupaten Mojokerto ini. Misalnya kalau seseorang usaha tani, ada beberapa jenis, semua harus tercatat. Ada sub sektor pertanian pangannya, ada holtikulturanya, mungkin juga ada ternaknya, dan sebagainya,” urai Herum.
Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny dalam laporannya menyampaikan, sensus ekonomi 2026 ini merupakan agenda nasional guna menyediakan data komprehensif mengenai struktur, dominasi, dan distribusi ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.
Menurutnya, untuk menghasilkan data yang akurat, kredibel, dan berkualitas tinggi, diperlukan petugas lapangan yang memiliki pemahaman, serta keterampilan yang memadai terkait metodologi, konsep pendataan, penggunaan kuesioner, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam proses pencacahan.
Dwi Yuhenny juga menjelaskan, apel siaga petugas sensus ekonomi 2026 digelar oleh BPS Kabupaten Mojokerto bersama pemkab sebagai bentuk pemantapan kesiapan petugas sebelum terjun ke lapangan.
“Apel siaga ini menjadi momentum untuk memastikan seluruh aparat siap melaksanakan tugas pendataan di lapangan secara profesional, obyektif, dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Pada apel siaga ini, peserta yang hadir langsung merupakan petugas gelombang ketiga, sedangkan dari gelombang pertama dan kedua mengikuti melalui streaming YouTube.
Terpisah, Ketua Panitia Pelatihan Tri Andayati, yang juga Kasubag Umum BPS Kabupaten Mojokerto, menjelaskan untuk gelombang ketiga terdiri dari 370 orang di tiga TC, yakni di Grand Whiz ada lima kelas, Royal tiga kelas, di Vanda terdapat empat kelas, totalnya 12 kelas.
“Cuma ini berbarengan pembukaan sekaligus apel siaga, satu kelas dari Vanda dan Royal kita jadikan satu di Grand Whiz. Sehingga ada tujuh kelas, totalnya 212 peserta di Grand Whiz. Yang mengikuti pembukaan secara offline. Sementara lainnya virtual,” jelas Tri Andayati.
Tujuan pelatihan untuk menyiapkan petugas sensus ekonomi 2026 sebelum terjun ke lapangan. Sensus sendiri berlangsung mulai 15 Juni, Senin pendataan awal, selama 2,5 bulan sampai 31 Agustus 2026.
“Materi pelatihan yang ada di kuesioner yang ditanyakan. Mulai anggota rumah tangga, usahanya apa. Bedanya sensus ekonomi 2016 dengan saat ini, semua cakupan. Kalau 2016 itu didata usaha saja, tapi sekarang itu semua penduduk didata, mulai usaha pertanian sampai jasa. Terus sistem pencacahannya juga berubah, kalau dulu memakai hardcopy, kuesioner, kalau sekarang sudah pakai gawai atau HP,” paparnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, petugas sensus adalah mitra hasil perekrutan di awal Mei. Mereka unsur mahasiswa, juga masyarakat umum, tetapi non ASN, yang memenuhi syarat administrasi, dan tes kompetensi pengetahuan umum sensus ekonomi. Kemudian tes wawancara virtual maupun tatap muka. Semuanya warga Kabupaten Mojokerto.
Selama pelatihan berlangsung, jelas Tri Andayati, tidak terjadi kendala, meskipun telah menyiapkan mitigasi, semisal 968 petugas itu tahu-tahu izin sakit, padahal secara SOP harus melaksanakan tiga hari, maka pelajaran yang ditinggal, harus diulang ikut gelombang berikutnya. “Alhamdulillah semua gelombang aman,” pungkasnya.
Sebagai informasi tambahan, peserta gelombang ketiga di Grand Whiz berasal dari Kecamatan Jetis, Trowulan, Kemlagi dan Jatirejo. Kemudian Kecamatan Dlanggu, Puri, Pacet dan sebagainya di Royal dan Vanda. (adv/cin)























