SURABAYA (MS) – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menggelar seminar “Temu Ilmiah Nasional II” di Surabaya, 3-5 Juli 2026. Perwakilan dari DPD 31 provinsi di seluruh Indonesia hadir salah satunya mengusung isu pembangunan gizi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Trans Luxury Hotel Surabaya.
Mewakili Gubernur Jatim, Sekdaprov Adhy Karyono menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh anggota Persagi yang telah melaksanakan seminar Temu Ilmiah Nasional yang kedua di Surabaya. Menurut Adhy Karyono, juga mengusung tema luar biasa, komprehensif “Sinergi Keamanan Pangan, Ketahanan Gizi, dan Kesehatan Saluran Cerna, serta Edukasi Gizi pada Program MBG Menuju Generasi Emas Indonesia”.
“Saya katakan, bahwa program prioritas nasional Quick Win pak presiden, di lapangan berjalan dengan baik, dan dampaknya bukan hanya kesehatan dan gizi anak, tetapi juga siswa, santri, ibu hamil, anak balita, tapi ini turut menumbuhkan dampak luar biasa terhadap perekonomian di Jawa Timur,” katanya kepada awak media.
Di mana ekosistem dari MBG ini, mulai dari petani, peternak, nelayan, dan juga rantai pasok terhadap UMKM, sebagai distributor itu juga berkontribusi terhadap konsumsi masyarakat Jawa Timur. “Otomatis kalau dari dampak kesehatan adalah stunting kita bisa turun dari 17,7% menjadi 14,7 dan ini sedang turun lagi kalau dihitung lagi,” imbuhnya.
Dia membenarkan, dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur pada triwulan satu sudah 5,96%. Salah satunya dari kontribusi peningkatan ekonomi UMKM, akibat dari ekosistem rantai pasok dari MBG.
Sementara Deputi Kementerian UMKM, M Riza Adha Damanik, juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, atas upaya luar biasa, sehingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhasil, baik dari sisi perluasannya, dan yang kedua khususnya melibatkan UMKM dalam rantai pasok.
“Dari pak sekda tadi triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi cukup baik angkanya, dan itu tidak lain didukung oleh rantai pasok, pergerakan ekonomi, dari program MBG yang melibatkan petani, nelayan, peternak, perkebun, pedagang pasar, UMKM. Sehingga program ini kita lihat satu sisi berkontribusi terhadap program kesehatan anak-anak generasi kita, dan yang kedua menggerakkan ekonomi daerah,” kutipnya.
Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada Persagi yang hari hadir 31 provinsi DPD, ahli-ahli gizi, dari seluruh Indonesia. “Ahli-ahli gizi kita, yang punya dedikasi, keinginan terlibat dalam rangka menjaga kualitas penyaluran makanan yang disajikan itu semakin sehat, baik.
“Kami menyambut baik inisiatif dari Persagi untuk membangun kerja sama, tidak lain untuk mendorong lahirnya nutri-preneur, yang satu sisi mereka punya keahlian gizi, dan di sisi lain mereka bisa menjadi pengusaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan, berkontribusi terhadap ekonomi daerah,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Persagi, Doddy Izwardy, merekomendasi pertemuan ilmiah untuk program pembangunan gizi nasional oleh pemerintah. “Apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga dari Kementerian UMKM, serta PMK Bappenas,” ujarnya saat doorstop.
Ia menjelaskan, tujuan Persagi menyelenggarakan T1, T2 sampai T4 nantinya, karena banyak program pemerintah yang bagus, seperti stunting, alasannya banyak kehilangan waktu karena tidak terjadi diskusi.
“Memang program yang paling harus kita kembalikan lagi, pemberian makanan, kepada berdampak 1.000 hari kehidupan, mulai ibu hamil sampai anak baduta, dan termasuk anak PAUD sampai SMA itu sebenarnya program paling strategis di dunia, di mana negara maju sudah melaksanakan,” ungkapnya.
Nah, Persagi pada hari ini, sambung Doddy, dalam rangka menjaga mutu pembangunan gizinya, caranya hingga tahun 2029 keliling ke partai-partai untuk menyerahkan dokumen upaya menjaga pembangunan gizi di Indonesia.
“Persagi memposisikan pangan itu sebagai keamanan, dan kedua ketahanan gizi, supaya mutu yang diberikan berkualitas, juga bagaimana paling penting memberikan edukasi. Sehingga hasil dari seminar ini nantinya akan kita serahkan kepada presiden, sehingga pada saat pemilu akbar nanti,” timpalnya.
Doddy kembali menegaskan posisi Persagi, bahwa untuk masa depan Indonesia. “Tujuan kita 2045 bagaimana stunting harus 5 persen. Nah kami lah yang coba memberikan ke pemerintah. Karena kami bukan audiens pemerintah, tapi kami kepakaran dari profesi. Kalau masalah gizi gagal, terjadi kelaparan, yang pertama malu adalah para ahli gizi,” tegasnya.
Namun di sini, menurut Doddy, Persagi melihat keberhasilan, yang pertama provinsi Bali dan kedua Jawa Timur yang mendorong keberhasilan penurunan angka stunting 14 persen. “Dan angka kita (nasional, red) baru 19,88, kita khawatir naik lagi, tapi dengan MBG ini harapannya 2029 stunting turun 14,4 %,” pungkasnya. (Ads/Kafila)























