SURABAYA, Metro9Berita.co.id – Tim sekolah sepak bola (SSB) PSG Unika U11 ikut ambil bagian pada turnamen anak yang diselenggarakan oleh iNews bertajuk “Surabaya Junior Football Cup 2026” memperebutkan Piala Wali Kota, Kamis (14/5) di Lapangan SIER Rungkut.
Bagi tim Lava Pijar, julukan PSG Unika, turnamen sepak bola usia dini ini adalah pengalaman pertama untuk sebagian besar pemain. Makanya tantangan utama para penggawanya adalah adaptasi dengan atmosfer pertandingan.
Selain keberanian untuk mengaplikasikan teknik dan skill sepak bola yang didapatkan selama mengikuti latihan, juga berusaha mengatasi ‘tekanan’ disaksikan oleh begitu banyaknya penonton, lebih-lebih orang tua, dan keluarga yang support hobi mereka.
Yang jelas, hasil pertandingan, bukan menjadi tolok ukur utama bagi SSB yang juga dikenal PSG Soccer School ini. Tetapi untuk menguji ‘mental’ bertanding anak-anak secara individu. Termasuk memberikan menit bermain yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kepercayaan diri ke depannya.
Hal itu, terbukti dari hasil dari tiga pertandingan yang diikuti mulai pagi hingga siang hari di bawah terik matahari yang luar biasa panas.
Pada match pertama, skuat PSG Unika U11 di bawah komando Kapten Valery, dibuat ‘menangis’ setelah menelan kekalahan 0-7 dari tim Banyuwangi Akademi.
Melawan tim yang terlihat lebih berpengalaman itu, anak-anak PSG mampu bermain bagus dan disiplin kurun lima menit. Dan ‘menangis’ ini mengungkapkan perasaan kecewa, tidak bisa bermain semestinya, yakni keinginan memberikan penampilan terbaik di hadapan orang-orang yang mereka sayangi.
Sangat jelas, atmosfer pertandingan menjadi problem utama, sehingga mempengaruhi konsentrasi dan fisik para pemain PSG Unika. Utamanya saat kebobolan pertama.
Beruntung Valery di bawah mistar babak pertama, juga banyak melakukan penyelamatan penting, sehingga jauh dari kemasukan lebih banyak.
Kehadiran pemain yang sudah memiliki minute to play seperti Valery dan Marvel, sedikit banyak menjadi motor semangat rekan-rekannya. Terlihat juga Abyan satu-satunya pemain tipikal bertahan, mampu menjawab kepercayaan di babak kedua. Demikian halnya Racing yang semakin lincah dan percaya diri.
Pasalnya secara taktikal bermain 7×7 memaksa untuk menurunkan dulu di posisi bertahan, pemain yang mempunyai kecepatan. Alhasil, duet Marvel dan Arfa, cukup efektif. Meski bertahan lima menit saja.
Faktor penyebabnya, pemain-pemain seperti Enzo, Elsada, Ali, Raya, yang bagus saat latihan, mendadak kehilangan sentuhan. Adaptasi atmosfer pertandingan tampak menjadi tantangan utama. Tidak bermain seperti biasanya.
Karenanya sejenak menurunkan duet Marvel dan Arfa di belakang ini benar. Tapi juga mengandung risiko, sebab sejatinya keduanya memiliki naluri menyerang. Saat tiba-tiba maju ke depan meninggalkan ruang tembak lawannya.
Babak ketiga, problem lini belakang mulai teratasi masuknya Abyan. Disiplin posisi menjadi kunci pemain satu ini meredam agresivitas lawan. Sementara di bawah mistar debutan Keano, juga merasakan kuatnya serangan Banyuwangi Akademi.
“Di game kedua lawan Elfaza, lebih bagus dari Banyuwangi. Tapi hanya kalah 0-6. Karena konsentrasi PSG lebih meningkat, menurunkan dulu pemain yang bermain baik di match pertama,” ujar Harun, ofisial PSG Unika.
Selain itu, laga satu dan dua menjadi ajang mencari formula data, kemampuan para pemain. “Sebelum turnamen, kami kesulitan mendapatkan sparing partner. Jadi turnamen ini sekaligus laga ujicoba. Hasilnya tidak mengecewakan, karena di match ketiga lawan Unesa, bermain imbang 0-0,” tambahnya.
Enzo yang tidak berkembang di tengah didorong ke depan. Lalu pemain PSG U9, Ahmad yang agresif, merepotkan skema lawan di tengah. “Hasilnya, kami bertahan dan menyerang sama baiknya. Coach Romadhon berhasil meracik komposisi hasil laga pertama dan kedua,” ungkapnya.
Menurutnya, progres yang meningkat dari satu game ke lainnya. Ini sudah merupakan prestasi dan apresiasi bagi tim yang baru terbentuk. “Bisa dilihat orang tua sangat antusias melihat perjuangan anak-anak mulai game pertama dan terus meningkat di laga ketiga. Anak-anak kemampuannya keluar di match ketiga, luar biasa,” terang Harun.
Berbekal itu, pihaknya akan terus berupaya memperkuat tim PSG Unika U11, dengan memperbaiki kekurangan saat latihan. Kemudian menambah ujicoba sebelum turun di turnamen berikutnya.
“Untuk kelompok umur 11 tahun ini. Selain penampilan Valery yang semakin matang. Dulunya bek tangguh yang menjadi kiper, juga ada rising star, Ahmad, meski seharusnya turun di tim U9, tapi tak canggung melawan tim di atas umurnya. Terus ada Arfa, pemain sayap, yang kuat dan dominan saat dijadikan pemain bertahan,” beber pria yang juga pengurus PSSI Surabaya ini.
Dirinya memiliki keyakinan, dengan rutin latihan bareng, lalu memperbanyak sparing, seiring meningkatnya chemistry, nantinya tim PSG Unika U11 ini bakal menjadi tim yang solid. “Anak-anak tampil percaya diri di laga ketiga. Ini bagus, makanya kami berharap terus jaga kekompakan, dan menambah latihan mandiri di rumah, apa-apa materi yang didapatkan saat di SSB,” tandasnya. (*)
The dream team PSG Unika U11: Valery, Keano (GK); Abyan, Arfa, Marvel, Ali, Raya, Enzo, Elsada, Ahmad, dan Racing (Player).






















