Metro9berita.co.id — Lapangan Desa Jumputrejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu sore (18/7/2026) mendadak ramai dipenuhi warga maupun pelintas jalan yang lewat. Hal ini disebabkan oleh kedatangan tim Persebaya Legend yang dijamu Ortas Sukodono FC.
Sepak bola adalah hiburan rakyat. Hadirnya bintang-bintang lapangan hijau mulai era 1980-an yang tergabung Persebaya Legend menjadi hiburan gratis di tengah semarak Piala Dunia 2026.
Suasana makin ramai oleh komentator yang menyiarkan jalannya pertandingan. Sentuhan bola sisa-sisa kualitas skill para legenda juga menambah decak kagum para penonton yang dipandu lewat pengeras suara mirip gala desa.

Di tengah-tengah itu begitu ada jedah, anak-anak SSB maupun warga langsung menyerbu untuk meminta foto dan tanda tangan kepada mantan-mantan pemain Persebaya dan timnas Indonesia pada masanya.
Direktur Auto Unika, Tatag Triwibowo bersama Kepala Desa Jumputrejo yang baru, M Mahrus, juga hadir langsung menyaksikan pertandingan.
“Sukodono dikenal banyak melahirkan pemain nasional, seperti Uston Nawawi, dan banyak lagi. Harapannya ini menjadi hiburan rakyat gratis di tengah semarak Piala Dunia,” terang Tatag.
Sementara itu, Mahrus menyambut baik inisiatif pertandingan sepak bola untuk para legenda.
“Mantap sekali, sukses buat acara silaturahmi sepak bolanya. Kehadiran para legenda Persebaya dan legenda Sidoarjo pastinya jadi suntikan motivasi luar biasa, bukan cuma buat nostalgia penonton orang tua, tapi juga buat anak-anak muda di SSB Jumputrejo,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran para idola lawas sukses menyedot perhatian dan membangkitkan gairah sepak bola masyarakat setempat. Karenanya, dia berharap pada perkembangan SSB di Jumputrejo agar bisa melahirkan bakat-bakat baru.
“Ada harapan dan aspirasi (pemkab, red), agar lapangan Jumputrejo mendapatkan dukungan fasilitas, khususnya bantuan lampu penerangan, dari pihak terkait seperti anggota dewan, agar lapangan bisa digunakan lebih optimal (bahkan malam hari),” bebernya.
Ia menambahkan, semoga aspirasi ini didengar dan terealisasi, sehingga sepak bola di Jumputrejo makin hidup, fasilitasnya makin lengkap, dan SSB-nya bisa terus berkembang mencetak pemain jempolan.
Di kesempatan itu, pelatih muda asli Sidoarjo yang mengantongi lisensi A PSSI, Adi Putra Setiawan, mengaku kagum dengan sisa-sisa skill yang masih melekat pada para legenda. “Mbah Win, sentuhannya masih ngosek,” ucapnya saat menyaksikan pertandingan usai latihan anak didiknya di tempat yang sama.
Saat dimintai komentar usai pertandingan, Winarno yang akrab disapa Mbah Win itu, sang pemilik gol tercepat Liga Indonesia sepanjang masa, mengatakan kalau kunci bermain tenang, tidak tergesa-gesa.

“Main bola kita, tidak tergesa-gesa, melihat situasi, satu dua sentuhan supaya tidak capek, dan dinikmati. Sambil menunggu yang muncul dari belakang ini yang berbahaya bagi pertahanan lawan,” ungkapnya.
Benar saja, berkat rangkaian sentuhan dan sesekali unjuk skill, pertandingan sangat menghibur, tercipta gol-gol indah dengan teknik tinggi, yang berlangsung dalam 3×30 menit. Alhasil, Persebaya Legend unggul 6-3 atas Ortos Sukodono FC. (Adv/Harun)
























