MOJOKERTO, Metro9Berita.co.id – Staf Khusus Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Afifudin Zamroni, melakukan kunjungan kerja ke Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Kamis (11/6/2026).
Kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk menyerap berbagai aspirasi masyarakat dan pemerintah desa terkait pembangunan serta pengembangan potensi lokal.
Dalam forum dialog yang dihadiri perangkat desa, BPD, LPM, dan tokoh masyarakat, sejumlah persoalan strategis disampaikan kepada Gus Afif. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan kawasan Wisata Religi Makam Troloyo yang selama ini menjadi ikon wisata ziarah di wilayah Trowulan.
Kepala Desa (Kades) Sentonorejo, M Sodiq, mengungkapkan keinginan pemerintah desa untuk memperoleh ruang yang lebih luas dalam pengelolaan kawasan wisata tersebut. Menurutnya, keterlibatan desa secara langsung akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menjelaskan, pola pengelolaan yang berjalan saat ini dinilai belum sepenuhnya mampu mengoptimalkan manfaat ekonomi bagi desa. Sebagian besar pendapatan dari sektor wisata masuk ke pemerintah daerah, sementara bagian yang diterima desa masih terbatas dan harus dialokasikan untuk berbagai kebutuhan operasional.
“Jika desa diberikan kesempatan mengelola secara lebih mandiri, manfaat ekonominya bisa langsung dirasakan masyarakat. Selain itu, peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru juga dapat tumbuh di sekitar kawasan wisata,” ujar Sodiq.
Tak hanya soal pengelolaan, pemerintah desa juga memaparkan rencana penataan kawasan Makam Troloyo. Penataan tersebut meliputi pengaturan pedagang kaki lima, pelaku UMKM, area parkir, hingga layanan transportasi lokal agar kawasan wisata terlihat lebih tertib dan nyaman bagi pengunjung.
Menurutnya, pembenahan tersebut penting dilakukan seiring meningkatnya jumlah peziarah yang datang dari berbagai daerah. Dengan kawasan yang lebih tertata, pengalaman wisata religi di Troloyo diharapkan semakin baik.
Kades Sodiq, menyampaikan bahwa selama ini skema pembagian hasil pengelolaan wisata dinilai belum memberikan manfaat optimal bagi desa. Dari sistem yang berlaku saat ini, sebagian besar pendapatan masuk ke pemerintah daerah, sementara porsi yang diterima desa harus digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional.
Menurutnya, apabila pengelolaan dilakukan secara mandiri oleh desa, manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat lebih dirasakan masyarakat, sekaligus membuka peluang kerja baru bagi warga sekitar.
“Sebagai desa mandiri, kami berharap dapat diberi kewenangan lebih luas untuk mengelola potensi wisata yang ada. Dengan begitu, hasilnya bisa kembali ke masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan,” ujarnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Gus Afif menilai aspirasi yang disampaikan pemerintah desa patut mendapat perhatian. Namun, menurutnya, diperlukan komunikasi dan pembahasan lebih lanjut bersama Pemerintah Kabupaten Mojokerto serta para pemangku kepentingan lainnya agar ditemukan formulasi terbaik dalam pengelolaan kawasan wisata religi tersebut.
“Makam Troloyo memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat tinggi. Karena itu, pengelolaannya harus mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kualitas pelayanan dan kenyamanan para peziarah,” kata Gus Afif.
M. Sodiq Kades Sentono Rejo Trowulan berbincang hangat dengan Gus Afif
Ia menambahkan, pengembangan wisata religi tidak cukup hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga harus menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat desa. Dengan tata kelola yang profesional dan kolaboratif, potensi ekonomi yang lahir dari sektor wisata dapat dinikmati secara lebih luas oleh warga sekitar.
Kunjungan kerja tersebut ditutup dengan diskusi mengenai peluang pengembangan desa berbasis potensi lokal. Sektor wisata religi berbasis masyarakat menjadi salah satu fokus yang dinilai memiliki prospek besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian Desa Sentonorejo. (*)


















