Metro9berita.co.id – Sebanyak 99 persen anak yang terlibat dalam kompetisi DBL Indonesia diperkirakan tidak akan menjadi atlet profesional. Namun, kondisi tersebut bukan berarti partisipasi mereka dalam olahraga menjadi sia-sia. Justru, pengalaman selama mengikuti kompetisi dapat menjadi bekal untuk membangun karakter dan menghadapi kehidupan di berbagai bidang.
Hal tersebut menjadi refleksi DBL Indonesia dalam memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 yang mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar”. Momentum tersebut dinilai penting untuk melihat olahraga tidak hanya dari capaian prestasi, tetapi juga dari luasnya kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi.
Sejak menyelenggarakan kompetisi basket pelajar pada 2004, DBL Indonesia membawa filosofi Founder dan CEO DBL Indonesia, Azrul Ananda, yakni “partisipasi adalah income, prestasi adalah cost.” Menurutnya, partisipasi menjadi dasar yang perlu diperkuat sebelum prestasi dapat lahir.
“Prestasi itu penting, tetapi prestasi tidak bisa berdiri sendiri. Sebelum ada juara, harus ada anak yang mau bermain. Harus ada sekolah yang memberi kesempatan, orang tua yang mendukung, guru dan pelatih yang membina, serta kompetisi yang menyediakan panggung untuk mereka berpartisipasi,” ujar Azrul.
Dalam perjalanan kompetisi, DBL tidak hanya menjadi ruang bagi pemain basket. Pelajar juga terlibat sebagai pemain dance maupun suporter sekolah. Musim ini, DBL mengusung tema Home of The Dreamers dengan sejumlah sekolah baru yang mengikuti kompetisi.
Bagi DBL Indonesia, pengalaman tersebut memberikan dampak yang lebih luas. Para peserta belajar mengenai disiplin, kerja sama, sportivitas, menghadapi kegagalan, keberanian, hingga membangun kepercayaan diri.
Dalam satu musim, rata-rata lebih dari 42.000 partisipan terlibat dalam kompetisi DBL. Dari jumlah tersebut, 1 persen yang kemudian menjadi atlet profesional tetap memiliki jumlah yang besar. Sebagian besar lainnya diharapkan membawa pengalaman dan karakter yang terbentuk selama kompetisi untuk menjadi profesional di bidang masing-masing.
Partisipasi juga menjadi pintu bagi munculnya talenta baru. Sejumlah pemain yang ditemukan melalui kompetisi DBL dalam beberapa tahun terakhir kemudian menjadi bagian dari timnas basket Indonesia di berbagai kelompok usia maupun nomor pertandingan.
Karena itu, Azrul menilai pembangunan olahraga tidak cukup hanya mengejar podium. Semakin luas ruang partisipasi dibuka, semakin besar pula peluang lahirnya prestasi.
“Beri semakin banyak sekolah kesempatan untuk berkompetisi. Bangun semakin banyak ruang bagi masyarakat untuk terlibat. Karena semakin besar partisipasi, semakin besar pula kemungkinan kita melahirkan prestasi,” pungkas Azrul. (*)





















