Metro9berita.co.id – Partisipasi menjadi perhatian DBL Indonesia dalam momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026, Rabu (9/9/2026) di Surabaya. Founder dan CEO DBL Indonesia, Azrul Ananda menilai keterlibatan masyarakat dalam olahraga perlu diperluas sebelum prestasi dapat dibangun secara berkelanjutan.
Pandangan tersebut sejalan dengan tema Haornas ke-43, “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar”. Tema itu mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam olahraga sekaligus memperkuat ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
Azrul Ananda memiliki filosofi dalam membangun olahraga melalui kompetisi basket pelajar.
Ia menyebut, “partisipasi adalah income, prestasi adalah cost. Jika partisipasi terus dikembangkan, maka partisipasi akan membiayai prestasi.”
Menurutnya, prestasi tidak dapat berdiri sendiri. Sebelum seorang juara lahir, dibutuhkan anak yang mau bermain, sekolah yang memberi kesempatan, orang tua yang mendukung, guru dan pelatih yang membina, serta kompetisi sebagai panggung untuk berpartisipasi.
Filosofi tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan DBL Indonesia sejak kompetisi basket pelajar digelar pada 2004.
Dalam perkembangannya, keterlibatan di kompetisi tersebut juga menjadi impian bagi pelajar, baik sebagai pemain basket, pemain dance, maupun suporter sekolah.
Musim 2026-2027, DBL mengusung tema Home of The Dreamers. Lima sekolah, yakni SMA Wijaya Putra Surabaya, SMA Ciputra Kasih, SMAN 2 Bangkalan, SMAN 3 Bangkalan, dan SMA Bumi Progresif Sidoarjo, turut menjalani debut dalam Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027.
Partisipasi dalam kompetisi juga menjadi salah satu pintu menuju prestasi basket nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah anak yang talentanya ditemukan melalui panggung DBL disebut berhasil menjadi bagian dari timnas basket Indonesia, baik senior maupun kelompok umur serta nomor 5 lawan 5 dan 3 lawan 3.
Namun, dampak kompetisi tidak hanya diarahkan untuk melahirkan atlet. Selama mengikuti kompetisi, pemain mendapatkan pengalaman mengenai disiplin, kerja sama, sportivitas, menghadapi kegagalan, keberanian, dan kepercayaan diri.
DBL Indonesia meyakini 99 persen anak yang terlibat dalam kompetisinya tidak akan menjadi atlet profesional. Mereka diharapkan menjadi profesional di berbagai bidang.
Sementara itu, 1 persen yang menjadi atlet tetap berjumlah besar karena rata-rata lebih dari 42.000 partisipan terlibat dalam kompetisi DBL setiap musim.
Karena itu, Haornas 2026 menjadi momentum bagi DBL Indonesia untuk menegaskan pentingnya memperluas partisipasi dalam pembangunan olahraga nasional.
Karena itu, Azrul mendorong semakin banyak sekolah mendapat kesempatan berkompetisi dan masyarakat memiliki ruang untuk terlibat.
“Karena semakin besar partisipasi, semakin besar pula kemungkinan kita melahirkan prestasi,” pungkas Azrul. (*)























