FK UWKS Edukasi Manfaat Sinar Matahari bagi Lansia Asem Jajar

Kegiatan PKKMB Fakultas Kedokteran

LOGO METRO SEMBILAN (NEW)
FK UWKS
KESEHATAN: Mahasiswa FK UWKS bersama warga lansia Asem Jajar, Surabaya, Sabtu (6/9/2026). (MS/Ali)

Metr09Berita.co.id – Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) berlangsung rutin setiap tahunnya. Kali ini dilaksanakan di RW 03 Asem Jajar, Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya, Sabtu (6/9/2026).

Sedikitnya 25 mahasiswa baru FK UWKS dibantu mahasiswa pendamping, Dwina Aulia Galih Pertiwi dan Windy Santika, serta mendapat pendampingan dari dosen, Emillia Devi Dwi Rianti, dr Indah Widyaningsih, dr Novina Aryanti, dan analis laboratorium Winny Oktavianty.

Example 300x600

Ketua RW 03 Eddy Suwito dan warga Asem Jajar mendapatkan edukasi terkait “Paparan Sinar Matahari untuk Lansia dan Aktivitas Fisik”, dengan melakukan tes berg balance scale (BBS) pada lansia, serta edukasi untuk mengenali hipertensi jaga kesehatan untuk meraih masa depan lebih baik.

READ  Hari Jadi ke-78 Polwan RI, Polwan Polres Bangli Bhakti Religi

Pada kesempatan itu, Emillia Devi Dwi Rianti memaparkan sinar matahari pagi sangat bermanfaat bagi lansia karena membantu tubuh memproduksi vitamin D yang esensial untuk menjaga kepadatan tulang, kekuatan otot, serta meningkatkan sistem imun agar tidak mudah sakit.

“Kulit lansia lebih tipis dan sensitif, sebaiknya dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu antara pukul 07.00 hingga 09.00 pagi, selama sekitar 10-15 menit pada area lengan atau kaki tanpa tabir surya, sambil tetap memperhatikan kondisi cuaca, hindari di atas pukul 10,” papar Devi.

Sementara dr Indah Widyaningsih, mengedukasi aktivitas fisik bagi lansia sangat penting untuk menjaga kemandirian dan mencegah jatuh, dan salah satu cara objektif untuk menilai keseimbangan mereka adalah melalui tes BBS.

“Tes ini terdiri dari 14 tugas fungsional, seperti duduk, berdiri, menjangkau, berputar, dan berjalan, nilai dari skala 0 hingga 4, hasil total skor (maksimal 56), kemudian digunakan untuk mengidentifikasi tingkat risiko jatuh: skor di bawah 45 menunjukkan risiko tinggi, skor 45–56 menunjukkan risiko rendah, sehingga dapat menjadi panduan bagi tenaga kesehatan dalam merancang program latihan keseimbangan yang aman dan sesuai, seperti latihan berdiri satu kaki, berjalan tumit-ujung, atau latihan kekuatan tungkai bawah,” papar Indah.

READ  Wali Kota Eri Cahyadi Pastikan Kendaraan Dinas Diawasi Ketat

Sedangkan, dr Novina Aryanti, memberikan edukasi mengenai hipertensi pada lansia merupakan langkah awal yang krusial untuk memahami bahwa tekanan darah tinggi bukanlah bagian normal dari penuaan, melainkan ‘silent killer’ yang dapat merusak pembuluh darah otak, jantung, dan ginjal secara perlahan tanpa gejala jelas, sehingga deteksi dini rutin cek tekanan darah sangat penting.

“Lansia perlu diajarkan mengenali faktor risiko, seperti konsumsi garam berlebihan, kurang gerak, stres, dan kebiasaan merokok. Serta memahami bahwa menjaga tekanan darah tetap stabil (ideal di bawah 140/90 mmHg untuk lansia, sesuai anjuran dokter) adalah investasi jangka panjang demi kemandirian dan kualitas hidup,” katanya.

READ  Negara Ini Bukan Kekurangan Uang Tapi Kelebihan Maling

Sehingga dengan menerapkan pola makan rendah garam dan tinggi serat, rutin minum obat sesuai resep tanpa putus, serta melakukan aktivitas fisik ringan secara teratur, seperti jalan pagi atau senam lansia. “Maka risiko komplikasi serius, seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal dapat ditekan secara signifikan,” tandasnya. (Ali)

banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page