Metro9Berita.co.id – Surabaya kembali menjadi kota pembuka DBL musim 2026-2027. Kompetisi bola basket pelajar terbesar di Indonesia ini resmi memasuki musim ke-22 di Surabaya, Kamis (6/8/2026), sekaligus menandai dimulainya rangkaian pertandingan di berbagai daerah.
Surabaya terpilih sebagai kota pembuka bukan tanpa alasan. Pasalnya, Kota Pahlawan merupakan tempat lahirnya DBL pada 2004 silam, dan menjadi awal berkembangnya kompetisi basket pelajar, hingga menjangkau 31 kota di 22 provinsi.
Musim ini, Surabaya diikuti 139 tim dari 94 sekolah. Selain peserta dari Surabaya, kompetisi juga diikuti sekolah asal Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, Lamongan, serta untuk pertama kalinya menghadirkan wakil dari Bangkalan.
Direktur Masany Audri, mengatakan Surabaya memiliki arti penting dalam perjalanan kompetisi ini. Menurutnya, pembukaan musim di kota tersebut menjadi simbol dimulainya kembali perjalanan ribuan pelajar untuk berkompetisi sekaligus mengejar mimpi.
“Tahun ini kami sangat antusias kembali membuka rangkaian di Surabaya. Kota ini memiliki sejarah yang sangat penting, karena menjadi tempat semuanya dimulai. Dari Surabaya, semangat kompetisi ini kemudian tumbuh hingga menjangkau berbagai kota di Indonesia,” katanya.
Memasuki musim kali ini, mengangkat tema Home of The Dreamers. Melalui tema tersebut, ingin menghadirkan kompetisi yang tidak hanya mengejar kemenangan di lapangan, tetapi juga menjadi ruang bagi pelajar untuk belajar, bertumbuh, dan membangun karakter melalui nilai disiplin, kepemimpinan, sportivitas, kerja sama, serta tanggung jawab.
Komitmen membangun ekosistem basket pelajar juga diwujudkan melalui Supporter Gathering yang mempertemukan suporter dari berbagai sekolah sebelum kompetisi dimulai. Kegiatan itu menjadi ruang untuk memperkuat budaya saling menghormati, sehingga rivalitas tetap terjaga di dalam lapangan, namun kebersamaan tetap tumbuh di luar pertandingan.
“Kami ingin budaya kompetisi ini selalu berjalan berdampingan dengan budaya saling menghormati. Rivalitas boleh terjadi saat pertandingan berlangsung, tetapi di luar lapangan kami ingin seluruh peserta dan suporter belajar tentang respek, kebersamaan, dan bagaimana menjadi bagian dari komunitas yang sehat,” ujarnya.
Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Sebab dinilai telah melalui proses kurasi sehingga dapat dimanfaatkan sekolah sebagai salah satu wadah pengembangan talenta peserta didik. Pengakuan itu sekaligus menjadi penyemangat untuk terus menjaga kualitas kompetisi dan memperkuat pembinaan pelajar di Indonesia. (*/mg1/red)























