Bunda PAUD Surabaya Target Sekolah 100 Persen Anak 5-6 Tahun

Roadshow Puspaga

LOGO METRO SEMBILAN (NEW)
Bunda PAUD Surabaya

SURABAYA, Metro9berita.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat upaya memastikan anak usia 5–6 tahun mendapatkan akses pendidikan anak usia dini (PAUD) sebelum memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Upaya tersebut salah satunya dilakukan Bunda PAUD Surabaya melalui Roadshow Kelas Parenting Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang digelar di Balai RW 3, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Senin (21/9/2026).

Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana edukasi bagi orang tua mengenai pengasuhan dan pendidikan anak, tetapi juga menjadi momentum untuk menjangkau dan mendata anak usia 5–6 tahun yang belum bersekolah di wilayah tersebut.

Example 300x600

“Selain memberikan edukasi agar menjadi mama yang lebih hebat dan mendorong peran ayah dalam pendidikan anak, kami juga mendata setiap kecamatan maupun kelurahan terkait anak usia 5–6 tahun yang belum bersekolah,” kata Bunda Rini.

Menurut bunda PAUD, anak-anak yang belum bersekolah memiliki berbagai latar belakang kondisi. Di antaranya persoalan ekonomi, anak berkebutuhan khusus, maupun karena perubahan administrasi kependudukan setelah berpindah kartu keluarga (KK).

READ  Pemkot Surabaya Uji Coba Balik Arah Embong Gayam - Sawo

Karena itu, pendataan dan penjangkauan dilakukan untuk mengetahui persoalan yang dihadapi masing-masing anak dan keluarga. Anak-anak yang masuk dalam pendataan tersebut selanjutnya akan dicarikan solusi sesuai dengan kebutuhannya melalui dukungan Pemkot Surabaya dan kolaborasi berbagai pihak.

“Kalau memang masalahnya keuangan atau ekonomi, kami bisa bekerja sama untuk mencari solusi. Kalau masuk dalam kategori warga miskin, ada bantuan pendidikan untuk anak-anak PAUD yang bisa diberikan melalui beasiswa Pemkot. Kalau tidak memungkinkan melalui APBD, bisa juga melalui CSR,” jelasnya.

Selain dukungan pemerintah dan CSR, Bunda Rini menyebut masyarakat juga memiliki peran penting melalui gerakan Kampung Pancasila. Menurutnya, kepedulian warga di lingkungan tempat tinggal dapat membantu anak-anak yang belum bersekolah agar memperoleh akses pendidikan.

“Tidak sedikit yang ternyata sudah sekolah karena bantuan dari Kampung Pancasila. Ketika warga mengetahui ada anak usia 5–6 tahun yang belum sekolah, mereka ikut peduli dan membantu agar anak tersebut bisa masuk sekolah,” ujarnya.

READ  Sambut 4 Ribu Match, PSSI Surabaya Gelar Refreshment Wasit

Bunda Rini menegaskan, pendidikan anak usia dini memiliki peran penting dalam mempersiapkan anak memasuki jenjang sekolah dasar (SD). Sebab, menurutnya, masih ada anggapan bahwa pendidikan PAUD/TK tidak terlalu diperlukan karena kegiatan anak lebih banyak diisi dengan bermain.

“Anggapan itu salah. Pendidikan usia dini merupakan bagian dari pembentukan karakter. Ketika masuk SD, anak sudah lebih siap secara mental dan psikologis. Banyak hal yang perlu dipersiapkan sejak dini,” tuturnya.

Karena itu, Bunda Rini mengajak masyarakat ikut berperan aktif melaporkan apabila mengetahui anak usia 5–6 tahun yang belum bersekolah. Informasi tersebut nantinya akan ditindaklanjuti untuk mencari solusi sesuai dengan kondisi masing-masing anak dan keluarga.

“Silakan dilaporkan kepada kami kalau ada anak yang belum sekolah. Bisa anak sendiri, tetangga, maupun saudara. Kami akan mencari solusi agar mereka tetap bisa mendapatkan pendidikan satu tahun sebelum masuk SD,” katanya.

READ  SIWO PWI Award 2026: Dominan, KONI dan Atlet Jatim Panen

Ia berharap, melalui Roadshow Kelas Parenting Puspaga dan kolaborasi berbagai pihak, seluruh anak usia 5–6 tahun di Kota Surabaya dapat mengakses pendidikan. Namun, bagi anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran formal, pendampingan akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, Bunda Rini mengatakan pembelajaran dapat diarahkan pada pengembangan keterampilan melalui Rumah Anak Prestasi (RAP), sehingga mereka tetap memiliki ruang untuk belajar dan mengembangkan potensi sesuai kemampuan masing-masing.

“Harapannya, seluruh anak bisa bersekolah dan tidak ada lagi anak yang tercatat belum mendapatkan pendidikan di Kota Surabaya. Saya berharap 100 persen anak sudah bersekolah, dengan tetap memberikan pendampingan dan layanan yang sesuai bagi anak-anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya,” pungkasnya. (*)

banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page