Tradisi Unik Ziarah Kubur Jamiyah Rutinan Mojokerto

Istiqomah ke-25 Ingatkan Kehidupan Akhirat

Avatar photo
Ziarah Kubur
TRADISI: Ziarah kubur Jamiyah Rutinan Mojokerto, Minggu (5/7/2026) pagi. (MS/IST)

MOJOKERTO (MS) – Semangat menjaga tradisi ziarah kubur terlihat di kompleks Makam Eyang Tumenggung Soekarto Widjoyono, Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, Minggu (5/7/2026) pagi.

Puluhan jamaah dari berbagai daerah berkumpul mengikuti kegiatan ziarah kubur ke-25 yang dirangkai dengan pembacaan doa bersama, hingga makan bubur Suro. Agenda jamiyah rutinan ini telah berlangsung istiqamah selama dua tahun terakhir.

Selain menjadi wadah memperdalam keyakinan dengan mendoakan ahli kubur, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi sesama jamiyah.

Example 300x600

Penanggung jawab acara, Hadi Purwanto, mengatakan keberlangsungan majelis hingga memasuki pelaksanaan ke-25 merupakan karunia yang patut disyukuri.

READ  Nyadran Pekuncen, Ning Ita Laksanakan Tradisi Jelang Ramadan

Menurutnya, mempertahankan sebuah majelis ilmu membutuhkan komitmen, kebersamaan, dan keistiqomahan seluruh jamaah.

Dia menambahkan, bahwa ziarah kubur mengingatkan manusia akan kehidupan akhirat, juga menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjasa.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi pengingat agar kita tidak melupakan asal-usul serta senantiasa mendoakan kedua orang tua, guru, dan para leluhur yang telah mendahului kita,” ujar advokat ini.

Sementara itu, kegiatan juga diisi oleh penceramah Ust Abdul Mukid yang mengajak jamaah meneladani kesetiaan Abu Bakar Ash-Shiddiq pada peristiwa hijrah. Di mana, rela mengorbankan dirinya demi melindungi Rasulullah SAW ketika bersembunyi di Gua Tsur, hingga kakinya tergigit ular berbisa.

READ  Musik Angklung Anak-anak TK Hidupkan Sidang Gereja di Mojosari

Sementara itu, KH Hasan Mathori mengulas makna tradisi bubur Suro yang menjadi bagian dari penutup kegiatan.

Ia menjelaskan, tradisi tersebut merupakan warisan dakwah Wali Songo yang sarat pesan moral agar umat Islam memiliki pribadi yang tangguh dan bermanfaat bagi sesama.

Filosofi pohon kelapa yang seluruh bagiannya berguna mengajarkan bahwa manusia hendaknya mampu memberi manfaat di mana pun berada, tetap kuat menghadapi cobaan, serta gemar berbagi melalui sedekah.

Usai doa penutup, seluruh jamaah menikmati nasi tumpeng dan bubur Suro bersama-sama. Ini memperkuat Suasana penuh keakraban mewarnai kebersamaan tersebut. (*)

banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page