Metro9Berita.co.id – Ratusan pendaki dari berbagai komunitas tumplek blek di kawasan Bukit Cendono, Dusun Mrasih, Desa Kemiri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (16/8/2026) pagi. Mereka berduyun-duyun untuk bersiap mengikuti upacara bendera Merah Putih memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus.
Kegiatan dibuka dengan doa dan kata sambutan panitia dan kepala konservasi tahura (taman hutan raya, red), kepala dusun, dan sponsor Auto Unika Mekanik. Kemudian dilanjutkan pelepasan peserta kirab pembawa bendera, juga barisan para pendaki yang membawa bentangan Merah Putih sepanjang 200 meter.
Ni Luh Novyanthi, Kepala RKW 07 Mojokerto Timur UPT Tahura Raden Soerjo, mengatakan bahwa untuk wilayah tahura terdapat beberapa tempat yang rutin melaksanakan upacara 17 Agustus, kini salah satunya di Bukit Cendono. “Terutama yang digagas oleh ibu Gubernur (Khofifah), yaitu ekspedisi Arjuno. Selain itu juga pada tempat-tempat pendakian pendek, seperti di Bukit Cendono,” katanya kepada awak media.

Wanita asal Bali yang mengaku betah di Jawa Timur ini menambahkan, bahwa ada lima lokasi tahura yang melaksanakan upacara, yakni di Bukit Lincing (Lawang, Malang). “Kemudian di Kabupaten Mojokerto, ada di Bukit Cendono, Gunung Pundak, Bukit Emas dan Watu Jengger,” imbuhnya.
Di kesempatan yang sama, Hari Lontar, Ketua Panitia Komunitas Tim Solidaritas, menjelaskan bahwa timnya telah standby di lokasi mulai tanggal 15 sampai nanti 17 Agustus, melaksanakan upacara bendera sekaligus pembentangan Merah Putih sepanjang 200 meter.
“Untuk pembawa bentang bendera melibatkan 60 orang, tetapi untuk peserta upacara mencapai 300-an personel, yang berasal dari sejumlah komunitas pendakian se-Jawa Timur, yang bersatu untuk melaksanakan upacara di Bukit Cendono,” terangnya.

Tak lupa, dia juga berpesan kepada para pendaki, supaya mencitai alam, membawa turun sampah, menghormati adat istiadat setempat, supaya terjaga keselamatannya. “Makanya dari diri sendiri selalu memperhatikan kesiapan fisik, mental dan perbekalan. Selalu menjaga kondisi, dan keselamatan,” tuturnya.
Sedang peserta yang hadir, masih Hari Lontar, yakni komunitas yang bergerak di pecinta alam, juga para pendaki gunung, petugas konservasi. “Makanya kita tetap menjaga kelestarian alam, supaya dapat kita wariskan kepada anak cucu kita ke depannya,” pesannya.
Menurutnya, bagi para pendaki, makna kemerdekaan adalah wujud syukur atas perjuangan para pahlawan, yang telah bertaruh nyawa demi Kemerdekaan Indonesia. “Khususnya meneladani perjuangan gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang keluar masuk hutan, seperti perjuangan para pendaki saat berusaha menaklukkan puncak gunung,” ujarnya.
Sekali lagi, pria berambut gondrong ini berharap kepada seluruh peserta dan panitia, untuk tetap Indonesia Kompak! “Buat Unika kami ucapkan banyak terima kasih karena selama beberapa periode terus mendukung kegiatan kami, termasuk saat gerak jalan MojoSuro di masa pandemi hingga new normal,” bebernya.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada komunitas Argapala, juga Kepala Dusun Merasih, karena sudah banyak men-support selama kegiatan berlangsung.
Berikutnya, Baijun, Ketua Srikandi, yang bertanggung jawab urusan logistik, turut memberikan tips mendaki aman dari isi perut. “Persiapan harus melihat konsepnya (mendaki, red), baru memenuhi kebutuhan. Kalau banyak ya kita siap, dan juga melihat besaran bujet,” katanya.
Apalagi era fomo-fomo (mendaki jadi tren), biasanya tidak terlalu memperhatikan logistik. “Tapi untuk makanan berat harus ada, seperti nasi, minimal roti, suplemen susu, dan air mineral yang banyak, karena kita butuh tenaga ekstra saat mendaki,” timpal Baijun.
Sementara Suprapto, Kepala Dusun Mrasih, mengaku sangat mendukung kegiatan teman-teman komunitas dalam rangka upacara bendera HUT Kemerdekaan RI ke-81. “Kami selaku kepala dusun sekaligus mewakili Pemerintah Desa Kemiri, bisanya memfasilitasi rekan-rekan panitia, kebutuhan yang diperlukan, kita siapkan,” ujarnya.
Suprapto, selaku perintis Bukit Cendono, menceritakan awalnya juga pecinta alam, lalu melalui view-view di wilayah dusunnya, lantas mengajukan kepada pihak tahura. “Alhamdulillah dari kementerian kehutanan, melalui proses panjang selama 2 tahun, akhirnya di-ACC, untuk wisata pendakian mulai 2023 lalu,” jabarnya.
Untuk animo masyarakat desa, masih Suprapto, kalau sangat setuju adanya wisata pendakian. Kemudian dari pengunjung luar Jawa Timur, mulai Medan, Solo, Jogja, hingga Jakarta.
“Tak hanya pemula, juga banyak yang sudah bolak-balik hingga delapan kali, untuk menikmati pemandangan indah sepanjang perjalanan sampai ke atas, mulai persawahan terasering, sampai aliran sungai dari sumber mata air yang masih terjaga kejernihannya,” terangnya.
Dari pantauan awak media, setibanya di titik basecamp, pendaki dikenakan registrasi masuk Rp11 ribu. Selanjutnya jarak menuju ke puncak mencapai 5 km dengan waktu tempuh jalan santai, hingga 3 jam. Sehingga selain ada pendaki yang bermalam mendirikan tenda, tetapi juga tidak sedikit yang model tektok, atau langsung balik turun.
Terpisah, Direktur Auto Unika Mekanik, Tatag Triwibowo, selaku sponsor, mengaku sangat mendukung dan men-support kegiatan-kegiatan yang positif ini.
“Kita harus selalu semangat mengisi kegiatan positif. Kemerdekaan bukan alasan untuk berhenti berjuang, tapi momentum melanjutkan cita-cita luhur para pahlawan dengan kerja nyata,” tuturnya.
Selain itu, dia juga mengajak para peserta upacara nantinya, untuk menjadikan semangat 17 Agustus sebagai pengingat untuk terus merawat integritas, gotong royong, dan kepedulian antar sesama demi kejayaan bangsa. (adv/har)






















