DENPASAR, Metro9Berita.co.id — Gejolak perang antara Iran dan Israel tak hanya mengguncang stabilitas geopolitik kawasan, tetapi juga merambat cepat ke sektor penerbangan internasional. Imbas penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah, beberapa penerbangan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai terpaksa dibatalkan dan ditunda, membuat ribuan penumpang tertahan di Bali.
Data operasional menunjukkan sedikitnya lima penerbangan menuju pusat transit utama Timur Tengah terdampak langsung. Penerbangan Etihad Airways EY477 rute Denpasar–Abu Dhabi yang dijadwalkan berangkat pukul 18.45 WITA pada 28 Februari dilaporkan mengalami penundaan. Sementara itu, pembatalan terjadi pada Emirates EK369 rute Denpasar–Dubai (STD 19.45 WITA, 28 Februari), Qatar Airways QR963 rute Denpasar–Doha (STD 18.50 WITA, 28 Februari), Emirates EK399 rute Denpasar–Dubai (STD 00.25 WITA, 1 Maret), serta Qatar Airways QR961 rute Denpasar–Doha (STD 00.30 WITA, 1 Maret).
Penutupan ruang udara di beberapa titik strategis Timur Tengah memaksa maskapai mengkaji ulang jalur penerbangan demi keselamatan. Kawasan tersebut selama ini merupakan salah satu koridor udara tersibuk di dunia yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika. Ketika akses udara ditutup, efek domino langsung terasa pada jadwal global, termasuk Bali yang menjadi simpul wisata internasional.
Total lebih dari 1.600 calon penumpang dilaporkan terdampak perubahan jadwal ini. Sebagian harus menunggu kepastian penerbangan pengganti, sementara lainnya memilih opsi pengembalian dana atau pengalihan rute melalui negara transit alternatif. Antrean di konter layanan maskapai meningkat sejak Sabtu malam, meski operasional bandara untuk rute lain tetap berjalan normal.
Pihak pengelola bandara mengimbau seluruh calon penumpang tujuan Timur Tengah untuk secara berkala memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara. Situasi dinilai masih sangat dinamis dan bergantung pada perkembangan keamanan di kawasan konflik.
Perang yang berkobar ribuan kilometer dari Bali kini membuktikan satu hal: dalam era konektivitas global, ledakan di satu wilayah bisa langsung mengguncang langit di belahan dunia lain. Jika eskalasi terus meningkat dan ruang udara belum kembali dibuka, potensi pembatalan lanjutan bukanlah hal yang mustahil. (*)
















