SURABAYA, Metro9Berita.co.id – Manajer tim Banteng Jatim U17 turut menanggapi fenomena pemain sepak bola naturalisasi timnas Indonesia yang marak belakangan ini, dan menyedot perhatian dunia. Ditemui di sela-sela seleksi pemain yang dipersiapkan untuk turnamen Liga Kampung Soekarno Cup III 2026, Dr Ir Daniel Rohi MEngSC IPU menyatakan setuju dengan konsep dasar pemain naturalisasi.
“Saya setuju konsep dasar, bahwa salah satu cara untuk maju, adalah dengan mengadopsi ide-ide dari luar, seperti saya sebagai orang teknik begitu,” ujar Manajer Banteng Jatim U17, Dr Rohi di Stadion G10N Tambaksari, Surabaya, Minggu siang (29/3/2026).
Konsepnya prinsip ATM, yaitu amati, tiru dan modifikasi. “Naturalisasi masih bisa dimainkan dengan jumlah terbatas. Komposisi pemain kita perlu ambil. Misalnya timnas kita pemain lokal empat main itu 30 persen, masih masuklah. Tapi ini harus dibatasi, sampai suatu waktu harus nol pemain naturalisasi. Ada target kita, tapi kalau tidak ya kita hanya menjadi penonton,” katanya.
Sambung Rohi, meskipun pemain naturalisasi itu mengalir darah keturunan Indonesia. “Tapi aku lebih suka yang main itu orang asli Indonesia. Yaitu yang lahir dan hidup di sini. Biar menjadi inspirasi generasi muda. Kalau naturalisasi darah keturunan itu biar jadi trigger saja lah. Karena suatu waktu ketergantungan itu harus dihapus,” tegas dosen dan peneliti Jurusan Teknik Elektro FTS Unipa Surabaya ini.
Lebih lanjut Rohi, Bung Karno punya gagasan besar Tri Sakti, yakni Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan. Konsep ini bertujuan agar Indonesia merdeka, kuat, bermartabat, dan tidak bergantung paa asing.
“Salah satu perubahan ekonomi ini dalam segala aspek lah. Masak kita main bola nggak mandiri. Dari 270 juta penduduk masa sih kita tidak bisa pilih 11 pemain, apa yang salah?,” tanya Daniel Rohi yang juga Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Timur ini.
Makanya, masih Rohi, sebagai orang awam bola, menurutnya olahraga bola ini bisa menjadi industri. Tapi harus ekosistemnya siap. Dan negara tidak boleh campur tangan. Lantas dia mencontohkan ekosistem bola basket DBL yang dibangun oleh Azrul Ananda.
“Mantap, dia hebat kan, murni swasta. Artinya begini, swasta bisa hidup dengan bisnis bola. Dia bisa menciptakan pasar sendiri, branding sendiri, akhirnya orang tertarik. Nah sepak bola mungkin bisa begitu. Artinya ekosistem jalan. Mungkin siapa di sepak bola kita ini ada orang gila bola bikin satu liga. Kayak DBL begitu,” urainya.
Tenaga Ahli Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur ini menambahkan, bahwa di situ bukan kompetisi PSSI, netral, murni swasta, milik masyarakat, juga ada penontonnya, baru jadi. “Tapi kalau masih PSSI, ada uang negara, terkadang kurang konsisten. Kalau saya begitu,” pungkasnya. (Harun)























