MANOKWARI, Metro9Berita.co.id — Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) yang bertugas melakukan riset dan pengabdian masyarakat di Kampung Desay, Distrik Prafi SP2, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, berhasil melaksanakan panen perdana jamur tiram menggunakan media tumbuh (baglog) dari limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), Senin (12/10/2026) kemarin. Keberhasilan panen ini disambut antusias Ketua Ekspedisi Prof Dr apt Sukardiman MS bersama tim riset dan peserta.
Diketahui, kegiatan riset dan pengabdian masyarakat Tim Ekspedisi Patriot Unair hasil kerja sama dengan Kementrans RI ini difokuskan pada upaya penyelesaian permasalahan sanitasi dan pemeliharaan lingkungan hidup. Kawasan Prafi, yang dikenal sebagai pemukiman transmigran dan pusat aktivitas pengolahan kelapa sawit, selama ini menghadapi tantangan akumulasi limbah TKKS dalam jumlah besar.
“Melalui pendekatan bioteknologi aplikatif, inovasi ini mengubah limbah padat kelapa sawit menjadi media tanam bernilai ekonomi untuk budidaya jamur tiram. Program ini dirancang untuk mewujudkan prinsip ekonomi sirkular (circular economy) yang berkelanjutan sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di Prafi SP2,” terang Prof Sukardiman kepada awak media, Selasa (13/10/2026) pagi.
Solusi Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi
Masih Ketua Tim Ekspedisi Patriot Unair, menyampaikan bahwa target utama dari program kolaboratif ini tidak hanya sekadar mengolah sampah organik, tetapi juga menciptakan nilai tambah (added value) bagi perekonomian warga setempat.
“Melalui penerapan bioteknologi aplikatif pada limbah tandan kosong kelapa sawit, kami berupaya membantu menyelesaikan masalah sanitasi lingkungan di daerah transmigran Prafi. Panen perdana ini menjadi bukti bahwa pendekatan ekonomi sirkular mampu memberdayakan masyarakat serta membuka peluang usaha baru berbasis kelestarian lingkungan,” jelas Prof Sukardiman.
Diharapkan keberhasilan panen perdana ini dapat dilanjutkan dengan pelatihan dan pembinaan berkelanjutan, sehingga masyarakat Prafi SP2 Manokwari dapat mengadopsi teknologi budidaya ini secara mandiri guna menopang ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi lokal.

Tim Ekspedisi Patriot Bangun Rumah Jamur Permanen
Sementara itu, limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dilirik sebagai salah satu bahan baku utama yang sangat potensial untuk media tumbuh jamur tiram. Karena kandungan lignoselulosa yang tinggi pada TKKS menjadikannya sumber karbohidrat dan nutrisi yang sangat baik untuk menunjang pertumbuhan jamur secara optimal.
“Dalam memformulasi media tumbuh (baglog) yang berkualitas, TKKS digabungkan dengan beberapa bahan pelengkap. Tambahan dedak atau bekatul berguna untuk meningkatkan komposisi karbohidrat serta sumber karbon yang dibutuhkan jamur tiram,” papar Prof Sukardiman.
Selain itu, penambahan dolomit (kapur pertanian) berfungsi untuk menetralkan dan menjaga tingkat keasaman (pH) media agar jamur dapat tumbuh secara maksimum. “Kadar air yang tepat juga disesuaikan untuk menjaga kelembapan media,” imbuhnya.
Sebagai langkah nyata dalam mengimplementasikan inovasi ini, Tim Ekspedisi Patriot Unair juga telah berhasil membangun kumbung (rumah jamur) permanen berukuran 6 x 10 meter. Bangunan tersebut dirancang efisien dan dibagi menjadi dua bagian utama:
- Area Budidaya: Dua pertiga luas bangunan dialokasikan khusus untuk proses penumbuhan dan inokulasi jamur tiram.
- Area Produksi dan Fasilitas: Sepertiga luas bangunan dimanfaatkan untuk menempatkan berbagai infrastruktur penunjang, antara lain:
-
- Mesin Chopper: Untuk mencacah dan menghancurkan tandan kosong kelapa sawit.
- Mesin Mixer: Untuk mencampur adonan dan formula media tumbuh secara merata.
- Mesin Steamer: Untuk mensterilisasi baglog yang telah diformulasi dan difermentasi.
Proses sterilisasi dengan steamer ini sangat krusial untuk memastikan media tumbuh bebas dari kontaminan. Sehingga jamur tiram dapat tumbuh secara monokultur dan optimal tanpa gangguan mikroorganisme lain.
“Inisiatif ini diharapkan tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi model budidaya jamur tiram yang terintegrasi dan berkelanjutan,” pungkas Prof Sukardiman. (Harun)





















