Ning Ita Studi Pengelolaan Sampah di Kota Osaki Jepang

Avatar photo
Pengelolaan Sampah
WORKSHOP: Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari saat berada di tempat pengelolaan sampah di Osaki, Jepang, Jumat (30/1/2026). (Foto: IST/Kominfo)

Metro9Berita.co.id – Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, mengikuti workshop pengelolaan sampah atas undangan resmi dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI) di Kota Osaki, Jepang, 26-30 Januari 2026.

Dalam workshop ini, Ning Ita, sapaan Wali Kota Mojokerto, bersama rombongan dari Indonesia dipimpin langsung oleh Rofi Alhanif, Asdep Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan yang didampingi oleh Kirsfianti Linda Ginoga, Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Kemenko Bidang Pangan RI.

Example 300x600

Di lokasi, rombongan diterima secara langsung oleh Mr Yoshida, President of AOTS, dan ⁠Mrs AOKI, Ministry of Economic, Trade and Industry.

Menurut Ning Ita, workshop selama lima hari tersebut menjadi pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga, baik secara profesional, personal, maupun institusional, masalah pengelolaan sampah.

“Program ini memberikan banyak pembelajaran penting bagi kami dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Tidak hanya dari sisi teknis dan regulasi, tetapi juga bagaimana membangun kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat,” katanya, Jumat (30/1).

READ  Kota Mojokerto Jadi Pilot Project Digitalisasi Bansos Nasional

Selama mengikuti rangkaian kegiatan, Ning Ita, juga merasa terhormat, karena ditampilkan sebagai salah satu praktik, baik dalam kolaborasi lintas sektor pengelolaan sampah.

Pengakuan tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari kemitraan yang telah dibangun bersama rekosistem, serta berbagai mitra sektor swasta Jepang, seperti Ajinomoto, Yakult, Unicharm, Panasonic, dan Marubeni.

“Pengakuan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan menjadi dorongan bagi kami untuk terus melanjutkan dan mengembangkan berbagai upaya yang telah dirintis di Kota Mojokerto,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan sejumlah praktik pengelolaan sampah yang telah dijalankan.

Melalui kolaborasi TPS3R di Kelurahan Magersari bersama rekosistem dan mitra Jepang, Kota Mojokerto berhasil menurunkan timbulan sampah, hingga 46,53 persen pada tahun 2025 melalui daur ulang, pengomposan, serta pengurangan sampah dari sumbernya.

READ  Kota Mojokerto Tuan Rumah Gebyar Senam PORPI se-Jawa Timur

Ning Ita menambahkan, bahwa Pemerintah Kota Mojokerto mengimplementasikan Program Ibu Meguru yang memberdayakan ibu rumah tangga, sebagai pelaku utama pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

“Program ini didukung dengan kantong sampah khusus, serta sistem insentif, dan terbukti efektif meningkatkan partisipasi masyarakat, sekaligus mendorong perubahan perilaku,” terangnya.

Lebih lanjut, Ning Ita menyampaikan bahwa di Kota Mojokerto, juga menyelenggarakan kegiatan Spogomi, kegiatan yang menggabungkan olahraga dengan aksi pengumpulan sampah. Dan kegiatan ini dinilai mampu meningkatkan kesadaran publik, melalui pendekatan yang menyenangkan dan inklusif.

Selama mengikuti workshop di Jepang, Ning Ita juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas pengelolaan sampah di JFE dan J-Circular, Kawasaki dan Meguro, pembelajaran kelas terkait regulasi pengelolaan sampah di Jepang, implementasi di Kota Osaki dan SOO Recycling, serta penerapan mekanisme extended producer responsibility (EPR) oleh JCPRA memberikan wawasan berharga mengenai sinergi, antara teknologi, sektor swasta, tata kelola pemerintahan, dan partisipasi masyarakat.

READ  Susur Sungai Ngotok Tambah Destinasi Wisata Kota Mojokerto

Dengan mengikuti workshop di Jepang tersebut, Ning Ita berkomitmen untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah pusat, masyarakat, mitra Jepang, rekosistem, serta sektor swasta.

Setelah berhasil dengan pengelolaan sampah bersama rekosistem dan perusahaan konsorsium Jepang, Ning Ita berharap akan berlanjut untuk pengelolaan sampah di sungai.

“Ke depan semoga ada sinergi tentang pengelolaan sampah di sungai, karena Kota Mojokerto dialiri 7 anak sungai, dan saat ini tengah mengembangkan wisata sungai di Taman Bahari Mojopahit (TBM),” pungkasnya. (*kmf/red)

banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page