Dusun Paras Gelar Tradisi Ngunduh Patirtan dan Sedekah Bumi

Tradisi Ngunduh Patirtan
Kades Kembangbelor, Muchtar Efendi dan Kasun Paras, Ahmad Khudori (kanan), beserta warga Dusun Paras mempersiapkan ancak utama, Gentong Air untuk melaksanakan Kirab Matirta, Minggu (8/2/2026) di Pacet, Mojokerto. (Foto: MS/Ivu)

MOJOKERTO, Metro9Berita.co.idWarga Dusun Paras, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto guyub rukun bersatu menggelar Tradisi Ruwah Dusun Ngunduh Patirtan, Minggu (8/2/2026).

Kegiatan mengambil tema “Tirta Amerta: Manunggaling Rasa, Memayu Hayuning Bawana”. Ini adalah tradisi tahunan di bulan Ruwah/Syahban, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan YME. Dengan adanya sumber mata air yang memberi manfaat besar pada alam, juga kehidupan masyarakat, serta bentuk penghormatan warga Paras pada lingkungan hidup.

Example 300x600

Acara berlangsung mulai, Sabtu (7/2/2026), dengan pembacaan ayat suci Alquran di makam sesepuh dusun, Mbah Radiman dan Pendopo Mbah Jurang Dowo. Kemudian pada malam harinya melaksanakan tahlil dan doah dipimpin oleh Kepala Dusun Paras, Ahmad Khudori, baru dilanjutkan dengan kenduri/barian bersama.

Sementara Ngunduh Patirtan dilaksanakan, Minggu 8 Februari 2026. Terdapat empat kegiatan yang dilaksanakan, yakni: 1. Umbul Dungo 2. Ngunduh Patirtan 3. Napak Tilas Tirta, dan 4. Kirab Matirta.

Umbul Dungo
Pembacaan ayat suci Al Quran yang dibacakan secara berjamaah oleh generasi muda Dusun Paras yang dimulai sejak pagi hari di area sumber mata air Belik Nogo.

READ  ASEAN Para Games, Jatim Sumbang 40 Medali untuk Indonesia

Ngunduh Patirtan
Prosesi ritual dimulai dengan pengaturan sesaji yang dilakukan oleh tokoh kasepuhan adat dilanjutkan dengan pagelaran Wayang Beber oleh dalang Ki Sabar Paras diikuti pembacaan mantra raja kala cakra oleh seluruh peserta yang terdiri dari anggota Kasepuhan, Kanoman, Pengrawit, Dayang, Panji, dan juga Bekel. Acara dilanjutkan dengan prosesi pengambilan air di empat mata air di Belik Nogo yang dilakukan oleh Kasepuhan Adat. Selanjutnya acara ditutup dengan pembacaan doa bersama.

Napak Tilas Tirta
Air sumber mata air yang telah dimasukan di dalam dua gentong tanah liat, kemudian dipanggul oleh para Bekel. Urutan barisan Napak Tilas Tirta, yaitu Panji, Dayang, Pengrawit, Kanoman, Kasepuhan diakhiri Bekel yang berjalan bersama melintasi hutan, dan jalan desa menuju perbatasan Dusun Paras. Di mana perjalanan ini menempuh jarak sekitar dua kilometer

Merti Tirta
Ritual dilaksanakan di pertigaan perbatasan Dusun Paras. Prosesi pertama, yakni tari tradisional Jawa yang ditampilkan oleh sang penari wanita. Dilanjutkan pembacaan mantra dan doa oleh sesepuh dan tokoh adat Dusun Paras, Ahmad Khudori. Sementara para peserta Ngunduh Patirtan duduk terdiam bersila melingkar, suasana kidmat dan syahdu membahana saat lantunan mantra dan doa dikumandangkan.

READ  DPRD Surabaya Fasilitasi Mediasi Parkir Liar Truk di Semut Baru

Suasana cerah menaungi seluruh prosesi. Tiga gususan gunung yang mengitari Dusun Paras, yakni gunung Penanggungan, Arjuna Welirang, dan Anjasmara nampak berdiri, seakan menjadi saksi suksesnya perhelatan budaya dan tradisi yang tetap lestari untuk menghargai jasa leluhur Dusun Paras.

Kirab Matirta
Air sumber di gentong kemudian diletakan pada ancak khusus Tirta Amerta, sebagai simbol keabadian dan kemakmuran. Acara selanjutnya kirab ancak serentak yang dikuti oleh seluruh warga Paras yang terdiri dari 6 RT. Kirab diawali oleh ancak sedekah bumi berbentuk payung tiga susun, sebagai pembuka Kirab Matirta dalam acara budaya Ngunduh Patirtan tahun 2026. Terdiri dari Ancak Tirta Amerta, dan ancak hasil bumi lalu diikuti oleh beraneka macam ancak yang unik dan kreatif dari masing-masing RT.

Tampak warga penuh semangat mengikuti tradisi ini, dengan mengenakan busana tradisional yang bertujuan uri-uri budaya adi luhung Jawa.

READ  KONI Surabaya Gelar Fun Sport Bersama DPRD

Setelah tiba di lapangan desa, doa pun kembali digelar oleh sesepuh dusun. Selanjutnya ancak dipersilahkan direbut oleh warga dari luar Dusun Paras.

“Ngunduh Patirtan dan sedekah bumi ini, saya rasa berjalan dengan baik, dan lancar sesuai rencana yang sudah ditetapkan. Alhamdulillah di tahun ini, kami para Kanoman di desa sudah mulai memahami hakikat dan makna dalam acara. Sehingga kami dapat mengader dari awal para generasi penerus, agar mereka mengetahui sejak dini tentang ritual, ruwatan, tradisi, dan kebudayaan, agar di masa depan mereka dapat menjadi generasi yang memiliki visi tradisi dan teknologi,” ujar Surya Ady Tama, anggota Kanoman Dusun Paras.

Singkatnya, Ngunduh Patirtan merupakan wujud nyata semangat warga menjaga tradisi dan budaya, agar tak lekang oleh zaman. Dan kelak menjadi warisan luhur bagi generasi masa depan Dusun Paras. (Ivu)

banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page